ANALISIS DAN PEMBAHASAN
TITRASI OKSIDIMETRI
![]() |
Oleh :
Zumrotus Sholihah
15030194022
PKA 2015
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
PRODI PENDIDIKAN KIMIA
2016
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
1.
Menentuan (standarisasi) larutan Na2S2O3
± 0,1 N dengan Kalium Iodidat baku
Menentukan
konsentrasi larutan KIO3 dengan larutan Na2S2O3
menggunakan metode titrasi iodometri yang berprinsipkan berdasarkan reaksi
redoks yaitu serah terima electron, pereduksi memberikan electron dan diterima
pengoksidasi. Larutan KIO3 sebagai larutan baku primer karena sudah
diketahui konsentrasinya, sifatnya tidak higrokopis( stabil terhadap udara) dan
kemurniannya yang baik.
Pada
percoban ini cara pertama, menimbang menggunakan neraca analitik Kristal KIO3
sebanyak ±0,357 gram. Selanjutnya, Kristal
KIO3 dimasukkan dalam lanu ukur 100 mL. Selanjutnya, dilarutkan
dengan aquades sampai batas meniscus. Labu ukur ditutup dan dikocok agar larutan
tercampur sempurna, sehingga menghasilkan larutan baku KIO3
Reaksi :
KIO3(s) + H2O(l) à KIO3(aq) + H2O(l)
Selanjutnya proses titrasi,
Larutan Na2S2O3 dimasukkan dalam buret, larutan
Na2S2O3 juga digunakan untuk mencuci buret
gunanya menghilangkan zat pengotor pada buret, Selanjutnya, larutan Na2S2O3
pada buret diturunkan sampai skala nol untuk memudahkan dalam menentukan
volume larutan Na2S2O3 yang dibutuhkan.
Selanjutnya, dipipet 10 mL larutan KIO3 ±0,1 N dengan pipet seukuran
dan masukkan dalam erlenmeyer. Selanjutnya, ditambahkan 2 mL larutan KI 20 %, larutan
tetap tidak berwarna. Penambahan KI ini
untuk memperbesar kelarutan I2 yang sukar larut dalam air dan KI 20
% untuk mereduksi analit sehingga bisa
dijadikan standarisasi. Selanjutnya, ditambahkan 1 mL HCl 4 N dalam erlenmeyer tersebut
sehingga menghasilkan larutan berwarna orange kecoklatan. . Penambahan HCl dalam
larutan tersebut adalah memberikan suasana asam, sebab larutan yang terdiri
dari kalium iodat dan kalium iodida berada dalam kondisi netral atau memiliki
keasaman rendah. Reaksinya adalah sebagai berikut :
IO3– + 5I– +
6H+ → 3I2 + 3H2O
Selanjutnya, dititrasi
dengan larutan Na2S2O3 sampai terjadi perubahan
warna menjadi kuning muda. Larutan Na2S2O3 dapat dengan mudah diperoleh dalam keadaan
kemurnian yang tinggi, namun selalu ada saja sedikit ketidakpastian dari
kandungan air yang tepat, karena sifat flouresen atau melapuk-lekang dari garam
itu dan karena alasan-alasan lainnya. Karena itu, zat ini tidak memenuhi
syarat untuk dijadikan sebagai larutan baku standar primer. Larutan Na2S2O3
merupakan zat pereduksi, dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
2S2O32-
à S4O62-
+ 2e–
|
Diperoleh
volume larutan Na2S2O3 dalam tiga kali
pengulangan sebanyak :
·
Volume larutan Na2S2O3 percobaan
1 = 8,8 mL
·
Volume larutan Na2S2O3 percobaan 2 = 8,8 mL
·
Volume larutan Na2S2O3 percobaan 3 = 9,0 mL
Larutan
yang telah dititrasi, ditambahkan 1 mL larutan amilum sehingga larutan menjadi
ungu kehitaman. Penambahan amilum yang dilakukan saat mendekati titik akhir
titrasi dimaksudkan agar amilum tidak membungkus iod karena akan menyebabkan
amilum sukar dititrasi untuk kembali ke senyawa semula. Proses titrasi harus
dilakukan sesegera mungkin, hal ini disebabkan sifat I2 yang mudah
menuap. Pada titik akhir titrasi iod yang terikat juga hilang bereaksi dengan
titran sehingga warna biru mendadak hilang dan perubahannya sangat jelas.
Penggunaan indikator ini untuk memperjelas perubahan warna larutan yang terjadi
pada saat titik akhir titrasi. Sensitivitas warnanya tergantung pada pelarut
yang digunakan. Kompleks iodium-amilum memiliki kelarutan yang kecil dalam air,
sehingga umumnya ditambahkan pada titik akhir titrasi.
Setelah
ditambahkan amilum, dititrasi lagi dengan larutan Na2S2O3
hingga larutan tidak berwarna.
Volume larutan Na2S2O3 yang dibutuhkan untuk
menjadikan larutan tidak berwarna :
·
Volume larutan Na2S2O3 percobaan
1 = 0,3 mL
·
Volume larutan Na2S2O3 percobaan 2 = 0,2 mL
·
Volume larutan Na2S2O3 percobaan 3 = 0,2 mL
Volume yang diperoleh dari dua kali titrasi
tersebut dijumlahkan untuk menentukan
konsentrasi larutan Na2S2O3, reaksi redoks
yang terjadi untuk percobaan ini
|
|
|
IO3– + 5I- + 6 H+ à 3 I2 + 3H2O
2S2O32-
à S4O62-
+ 2e–
|
10S2O32-
+ 2IO3- + 12 H+à 5 S4O62-
+ I2 + 6H2O
Dari
reaksi didapat didapat BE KIO3 untuk menentukan konsentrasi larutan Na2S2O3
sebesar (n=6) hal itu karena dibutuhkan electron 6e- yang
bereaksi dengan 6H+ sehingga menjadi nol. Maka digunakan persamaan dibawah
ini untuk menentukan konsentrasi larutan Na2S2O3 :
Sehingga diperoleh Normalitas larutan Na2S2O3
pada tiga kali pengulangan sebesar
·
Normalitas larutan Na2S2O
pada percobaan 1 = 0,1099 N
·
Normalitas larutan Na2S2O pada
percobaan 2 = 0,1112 N
·
Normalitas larutan Na2S2O
pada percobaan 3 = 0,1087 N
Kemudian dari Normalitas larutan NaOH
yang diperoleh diatas, dirata-rata untuk mendapatkan normalitas larutan NaOH
rata-rata yaitu
= 0,1099 N.
2.
Menentukan kadar Cl2 dan pemutih
merck “Bayclin”
Pada percobaan kedua, langkah pertama yang
harus dilakukan ada menghitung berat jenis dari pemutih merck “bayclin” dengan
cara menimbang botol pigno 25 mL kosong diperoleh berat15,4278 g selanjutnya
menimbang botol pigno yang telah diisi pemutih merck “bayclin” sebanyak 25 mL
diperoleh berat 42,5070 g sehingga diketahui berat jenis pemutih merck
“bayclin” sebesar 1,0831 g/ mL dari persamaan :
Selanjutnya, dimasukkan pemutih merck “bayclin”
sebanyak 2 mL kedalam erlenmeyer 250 mL. Selanjutnya, ditambahkan aquades
sebanyak 75 mL. Selanjutnya, ditambahkan 3 gram KI , menghasilkan larutan
berwarna orange kecoklatan. Padatan KI berfungsi memperbesar kelarutan I2
yang sukar larut dalam air dan KI ini untuk mereduksi analit sehingga bisa
dijadikan standarisasi. Selanjutnya, ditambahkan 8 mL H2SO4 1:6
menghasilkan larutan berwarna ungu kehitaman,
ditambahkan larutan asam sulfat karena titrasi ini dilakukan di suasana
asam (ph<8,0)> 8,0. Selanjutnya, ditambahkan 3 tetes Amonium molibdat 3
%, (tidak berwarna) sebagai
katalis untuk mempercepat reaksi. Kemudian, larutan dalam erlenmeyer tersebut dititrasi
dengan larutan Na2S2O3 yang telah diketahui
konsentrasinya dari percobaan sebelumnya.
Reaksi pada percobaan berikut :
Cl2 + 2e à
2Cl-
|
Cl2 +2I- à 2Cl- + I2
I2 + 2e à 2I-
|
I2 +2S2O32
à 2I- + S4O62-
Titrasi dihentikan jika telah tercapai titik
akhit, sampai larutan berwarna coklat pudar. Volume larutan Na2S2O3
yang dibutuhkan pada dua kali pengulangan sebesar :
·
Volume larutan Na2S2O3 percobaan
1 = 19,3 mL
·
Volume larutan Na2S2O3 percobaan 2 = 19,1 mL
Selanjutnya, Ditambahkan 5 mL larutan Amilum sampai
larutan berwarna warna biru kehitaman. Amilum ditambahkan diakhir agar amilum
tidak membungkus iod karena akan menyebabkan amilum sukar dititrasi untuk
kembali ke senyawa semula. Proses titrasi harus dilakukan sesegera mungkin, hal
ini disebabkan sifat I2 yang mudah menuap. Pada titik akhir titrasi
iod yang terikat juga hilang bereaksi dengan titran sehingga warna biru
mendadak hilang dan perubahannya sangat jelas. Penggunaan indikator ini
untuk memperjelas perubahan warna larutan yang terjadi pada saat titik akhir
titrasi. Sensitivitas warnanya tergantung pada pelarut yang
digunakan. Kompleks iodium-amilum memiliki kelarutan yang kecil dalam
air, sehingga umumnya ditambahkan pada titik akhir titrasi.
Kemudian, dititrasi lagi dengan larutan Na2S2O3
hingga menjadi larutan tidak berwarna, diperoleh volume larutan Na2S2O3
yang dibutuhkan pada dua kali pengulangan sebesar :
·
Volume larutan Na2S2O3 percobaan
1 = 3,1 mL
·
Volume larutan Na2S2O3 percobaan 2 = 3,4 mL
Volume yang diperoleh pada dua kali titrasi kemudian dijumlahkan untuk
menentukan kadar Cl2 dalam pemutih merck “Bayclin” dengan persamaan :
Normalitas Cl2 yang telah diketahui digunakan menentukan
massa Cl2
Kemudian menentukan kadar Cl2, dengan persamaan :
Didapatkan kadar Cl2 dalam pemutih merck “Bayclin”
dalam dua kali pengulangan sebesar :
·
Kadar Cl2 pada percobaan 1
= 8,06%
·
Kadar Cl2 pada percobaan 2
= 8,09 %
Sehingga kadar rata-rata Cl2 dalam pemutih merck
“Bayclin” sebesar
8,075 %.
SIMPULAN
1.
Standarisai larutan Na2S2O3
± 0,1 N dengan Kalium Iodidat baku berdasarkan percobaan diperoleh
Normalitas Na2S2O3
pada 3 kali pengulangan sebesar 0,1099 N ; 0,1112 N ; dan 0,1087 N. Sehingga
diperoleh Normalitas rata-rata larutan NaOH adalah 0,11099 N.
2.
Pada percobaan
mengetahui kadar Cl2 dalam pemutih merck “bayclin” setelah dua kali
pengulangan diperoleh bahwa kadar Cl2 adalah 8,06 % ; 0, dan 8,09
%. Sehingga diperoleh rata-rata kadar Cl2 dalam pemutih merck “bayclin” adalah 8,075 %.



