Rabu, 22 Maret 2017




ANALISIS, PEMBAHASAN, DAN KESIMPULAN
TITRASI PENGOMPLEKSAN















Oleh :

Zumrotus Sholihah
15030194022
PKA 2015



UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
PRODI PENDIDIKAN KIMIA
2016
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
1.      Standarisasi / Penentuan Larutan Na-EDTA ±0.01 M dengan CaCl2 Sebagai Baku
Titrasi kompleksometri atau kelatometri adalah suatu jenis titrasi  antara bahan yang dianalisis dan titrat akan membentuk suatu kompleks senyawa. Kompleks senyawa ini disebut kelat dan terjadi akibat titran dan titrat yang saling mengkompleks. Dalam hal ini titran larutan EDTA dan titrat larutan CaCO3 saling mengompleks dengan bantuan indicator warna EBT.
Langkah pertama, ditimbangan CaCO3 dengan menggunakan neraca analitik. CaCO3 berbentuk serbuk halus dan berwarna putih sebanyak ±0,081 gram. Senyawa CaCO3 yang telah dimasukkan ke labu ukur 100mL. kemudian, dilarutkan dalam aquades sampai tanda batas, menghasilkan endapan berwarna putih CaCO3 yang tidak larut sempurna dalam aquades. Setelah itu diteteskan larutan HCl 6 M setetes demi setetes untuk menghilangkan gelagak gas yang terjadi dan melarutkan CaCO3 yang masih berwujud berupa serbuk, hal tersebut karena faktor kelarutan CaCO3 dalam keadaan jenuh, sehingga pada awalnya CaCO3 sedikit larut namun semakin lama CaCO3 tidak dapat melarut lagi karena sudah berada pada titik jenuh. Pada saat penambahan larutan HCl 6 M larutan yang semula berwarna putih keruh berubah menjadi jernih tidak berwarna, karena ion dalam CaCO3 dalam keadaan seimbang setelah ditambahkan larutan HCl 6 M. Dalam percobaan ini dibutuhkan 12 tetes HCl 6 M agar gas CO2 menghilang dan menghasilkan larutan CaCl2 yang jernih dan tidak berwarna.
reaksi yang terjadi :
CaCO3 (s) + H2O (l)               CaCO3 (s)
CaCO3 (s) + 2HCl (aq)                       CaCl2 (aq) + H2O (l) + CO2 (g)
Larutan CaCl2 sebagai baku primer karena zatnya stabil dan tersedia dalam kemurnia yang tinggi, dikatanya sebagai larutan baku primer karena  konsentrasinya diketahui dengan penimbangan secara tepat zat kimia yang benar-benar murni dan dilarutkan dalam sejumlah pelarut tertentu. Penimbangan kalsium karbonat  (CaCO3) dilakukan dengan seksama sehingga diperoleh berat sebesar 0,081 gram agar diperoleh larutan standar primer yang sesuai dimana konsentrasinya diketahui dengan tepat. Sehingga Larutan EDTA sebagai baku sekunder yang akan diketahui konsentrasinya dari larutan baku primer (CaCl2)
Kemudian diambil 10 mL larutan CaCl2 dengan pipet seukuran dan dimasukkan dalam erlenmeyer. Ditambahkan larutan buffer pH 10 sebanyak 2 mL, kemudian ditambahkan 3 tetes indikator EBT, sehingga larutan mengalami perubahan dari tidak berwarna menjadi merah anggur.
Larutan buffer ini tidak berwarna dan berbau seperti telur busuk. Penambahan larutan buffer ini menghasilkan larutan yang tidak berwarna. Penambahan ini dimaksudkan untuk menjaga pH larutan tidak turun (menjadi asam). Hal ini  dikarenakan pH pada saat titrasi, pH larutan akan turun karena pada reaksinya, EDTA akan menghasilkan H+ dihasilkannya H+ ini menjadikan pH larutan akan turun menjadi asam, hal ini tentunya akan mempengaruhi titrasi karena indikator EBT akan bekerja pada pH 7-11. Agar indikator EBT bekerja pada pH 7-11, maka pH titrasi perlu dijaga/disangga oleh larutan buffer. Selain itu penggunaan indikator EBT dalam percobaan ini karena indikator ini dapat berikatan secara langsung ion kalsium (Ca2+). Pada penggunaan indikator EBT haruslah segera dititrasi karena EBT bersifat tidak stabil sehingga dapat mempengaruhi hasil titrasi (perubahan warna, setelah tercapai titik akhir larutan berwarna biru akan kembali ke warna awal setelah dibiarkan jika jarak pemberian indikator EBT dengan proses titrasi terlalu lama).
Pada saat penambahan indikator terjadi reaksi antara ion kalsium (Ca2+) dengan indikator EBT, seperti reaksi di bawah ini :
CaCO3 + In3- à CaI-
                           (merahanggur)
Selanjutnya dititrasi dengan Na-EDTA dalam buret yang terlebih dahulu dicuci dengan larutan tersebut agar tidak ada zat lain sebagai zat pengotor kecuali larutan Na-EDTA itu sendiri. Dititrasi larutan dalam erlenmeyer dengan Na-EDTA sampai terjadi perubahan warna dari merah anggur menjadi biru (titik akhir titrasi)
Pada awal titrasi ini larutan berwarna merah anggur dimana larutan CaCO3 akan bereaksi dengan indikator EBT membentuk senyawa kompleks CaEBT berwarna merah anggur. Kompleks logam-indikator yang terbentuk menghasilkan warna merah anggur dimana setelah penambahan garam EDTA, ion logam akan bebas dan berikatan dengan Na2EDTA sehingga indikator akan berubah warna dari warna indikator yang membentuk kompleks dengan ion logam ke warna indikator yang bebas dari ion logam. Hal ini disebabkan karena kompleks logam-indikator lebih lemah daripada kompleks logam-EDTA sehingga EDTA yang ditambahkan selama titrasi akan mengikat ion logam bebas.
Reaksi yang terjadi :
CaI- + Na2EDTA à CaEDTA + I3- + 2Na+
(merah anggur)                          (biru)

Kompleks Ca-EDTA
Diperoleh volume yang dibutuhkan dan diulangi sebanyak 3 kali. Sehingga diperoleh volume Na-EDTA yang dibutuhkan
·         Volume Na-EDTA saat percobaan A = 7,2 mL
·         Volume Na-EDTA saat percobaan B = 7,4 mL
·         Volume Na-EDTA saat percobaan C = 7,4 mL
Setelah itu dihitung normalitas dari larutan Na-EDTA menggunakan rumus
                
                     
erikut ini adalah normalitas larutan Na-EDTA yang diperoleh setiap percobaan :
·         Normalitas larutan Na-EDTA pada percobaan A = 0,01125 N
·         Normalitas larutan Na-EDTA pada percobaan B = 0,01094 N
·         Normalitas larutan Na-EDTA pada percobaan C = 0,01094 N
Kemudian dari Normalitas larutan Na-EDTA yang diperoleh diatas, dirata-rata untuk mendapatkan normalitas larutan Na-EDTA rata-rata yaitu  = 0,01140 N
2.      Menentukan Kesadahan Ca Air PDAM di Perum Griya Citra Asri RT 1 RW 7 Sememi- Benowo
Pada percobaan kedua, menentukan Kesadahan Ca dari suatu sampel air PDAM di Perum Griya Citra Asri RT 1 RW 7 Sememi- Benowo. Langkah pertama, Diambil 10 mL sampel air sumur yang tidak berwarna tersebut dengan pipet seukuran dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 mL. Kemudian ke dalam sampel air sumur ditambahkan 1 mL larutan buffer dengan pH 10 yang tidak berwarna dan menghasilkan larutan yang juga tidak berwarna. Selanjutnya, ditambahkan 3 tetes indikator EBT yang berwarna merah anggur sehingga larutan berwarna merah anggur. Kemudian dititrasikan dengan larutan Na-EDTA yang telah distandarisasi sebelumnya dan dihentikan saat terjadi perubahan warna menjadi biru (titik akhir).
Penambahan larutan buffer ini menghasilkan larutan yang tidak berwarna. Penambahan ini dimaksudkan untuk menjaga pH larutan tidak turun (menjadi asam). Hal ini  dikarenakan pH pada saat titrasi, pH larutan akan turun karena pada reaksinya, EDTA akan menghasilkan H+ dihasilkannya H+ ini menjadikan pH larutan akan turun menjadi asam, hal ini tentunya akan mempengaruhi titrasi karena indikator EBT akan bekerja pada pH 7-11. Agar indikator EBT bekerja pada pH 7-11, maka pH titrasi perlu dijaga/disangga oleh larutan buffer. Selain itu penggunaan indikator EBT dalam percobaan ini karena indikator ini dapat berikatan secara langsung ion kalsium (Ca2+). Pada penggunaan indikator EBT haruslah segera dititrasi karena EBT bersifat tidak stabil sehingga dapat mempengaruhi hasil titrasi (perubahan warna, setelah tercapai titik akhir larutan berwarna biru akan kembali ke warna awal setelah dibiarkan jika jarak pemberian indikator EBT dengan proses titrasi terlalu lama).
Pada saat penambahan indikator terjadi reaksi antara ion kalsium (Ca2+) dengan indikator EBT, seperti reaksi di bawah ini :
CaCO3 + In3- à CaI-
                           (merah anggur)
Dititrasi air sampel dengan Na-EDTA sampai terjadi perubahan warna dari merah anggur menjadi biru (titik akhir titrasi)
Pada awal titrasi ini larutan berwarna merah anggur dimana larutan CaCO3 akan bereaksi dengan indikator EBT membentuk senyawa kompleks CaEBT berwarna merah anggur. Kompleks logam-indikator yang terbentuk menghasilkan warna merah anggur dimana setelah penambahan garam EDTA, ion logam akan bebas dan berikatan dengan Na2EDTA sehingga indikator akan berubah warna dari warna indikator yang membentuk kompleks dengan ion logam ke warna indikator yang bebas dari ion logam. Hal ini disebabkan karena kompleks logam-indikator lebih lemah daripada kompleks logam-EDTA sehingga EDTA yang ditambahkan selama titrasi akan mengikat ion logam bebas.
Reaksi yang terjadi :
CaI- + Na2EDTA à CaEDTA + I3- + 2Na+
(merah anggur)                          (biru)
Dicatat volume Na-EDTA untuk titrasi dan percobaan dilakukan 3 kali dengan volume sampel air PDAM yang sama.
·         Volume Na-EDTA saat percobaan A = 1,6 mL
·         Volume Na-EDTA saat percobaan B = 1,5 mL
·         Volume Na-EDTA saat percobaan C = 1,4 mL
Setelah itu dihitung Kesadahan Ca  dengan menggunakan rumus
Kesadahan Ca (ppm)  =
erikut ini adalah Kesadahan Ca yang diperoleh setiap percobaan :
·         Kesadahan Ca pada percobaan A = 176,64 ppm
·         Kesadahan Ca pada percobaan B = 165,6 ppm
·         Kesadahan Ca pada percobaan C = 154,56 ppm
Kemudian dari Kesadahan Ca yang diperoleh diatas, dirata-rata untuk mendapatkan Kesadahan Ca  rata-rata yaitu  = 165,6 ppm.
            Kesadahan Ca dari sampel air tersebut adalah 165,6 ppm masih bisa dikonsumsi karena belum mencapai 500 ppm yang merupakan parameter wajib sadah menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 tahun 2010.
Standar kesadahan menurut WHO, 1984, mengemukakan bahwa :
a.    Sangat lunak sama sekali tidak mengandung CaCO3;
b.    Lunak mengandung 0-60 ppm CaCO3;
c.    Agak sudah mengandung 60-120 ppm CaCO3;
d.   Sadah mengandung 120-180 ppm CaCO3;
e.    Sangat sadah 180 ppm ke atas.
Sehingga air sampel tersebut tergolong dalam “sadah” karena mengadung 165,6 ppm dan masih dapat dikonsumsi karena belum sampai 500 ppm. Hal ini disebabkan karena faktor alami, yaitu letak daerah pengambilan sampel terdapat pabrik industry, sehingga terdapat pencemaran air di daerah tersebut namun tidak besar.

KESIMPULAN
1.      Standarisasi larutan Na-EDTA dengan larutan baku CaCl2,  diperoleh volume Na-EDTA yang dibutuhkan dalam 3 kali pengulangan berturut-turut 7,2 mL ; 7,4 mL ; 7,4 mL. Sehingga, Normalitas larutan Na-EDTA pada 3 kali pengulangan yaitu . Sehingga Normalitas Na-EDTA rata-rata sebesar 0,01140 N.
2.      Penentukan Kesadahan Ca Air PDAM di Perum Griya Citra Asri RT 1 RW 7 Sememi- Benowo, diperoleh volume Na-EDTA yang dibutuhkan dalam 3 kali pengulangan berturut-turut 1,6 mL ; 1,5 mL ; 1,4 mL. Sehingga, Kesadahan Ca dalam sampel air pada 3 kali pengulangan yaitu . Diperoleh kesadahan total 165,6 ppm termasuk dalam tingkat “sadah” menurut standar WHO 1984. Hal tersebut bisa dikarena faktor alam pada daerah tersebut terdapat banyak pabrik dan pencemaran air, namun air PDAM tersebut masih bisa dikonsumsi karena belum melebihi ambang batas 500 ppm yang menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 tahun 2010.



KOMPLEKSOMETRI-ZUMROTUS

0 komentar:

Posting Komentar