ANALISIS, PEMBAHASAN, DAN
KESIMPULAN
TITRASI PENGOMPLEKSAN
Oleh :
Zumrotus Sholihah
15030194022
PKA 2015
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
PRODI PENDIDIKAN KIMIA
2016
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
1. Standarisasi
/ Penentuan Larutan Na-EDTA ±0.01 M dengan CaCl2 Sebagai Baku
Titrasi kompleksometri atau kelatometri adalah suatu
jenis titrasi antara bahan yang
dianalisis dan titrat akan membentuk suatu kompleks senyawa. Kompleks senyawa ini disebut kelat
dan terjadi akibat titran dan titrat yang saling mengkompleks. Dalam hal ini
titran larutan EDTA dan titrat larutan CaCO3 saling mengompleks
dengan bantuan indicator warna EBT.
Langkah pertama,
ditimbangan CaCO3 dengan menggunakan neraca analitik. CaCO3
berbentuk serbuk halus dan berwarna putih sebanyak ±0,081 gram. Senyawa CaCO3
yang telah dimasukkan ke labu ukur 100mL. kemudian, dilarutkan dalam aquades sampai
tanda batas, menghasilkan endapan berwarna putih CaCO3 yang tidak
larut sempurna dalam aquades. Setelah itu diteteskan larutan HCl 6 M setetes
demi setetes untuk menghilangkan gelagak gas yang terjadi dan melarutkan CaCO3
yang masih berwujud berupa serbuk, hal tersebut karena faktor kelarutan
CaCO3 dalam keadaan jenuh, sehingga pada awalnya CaCO3
sedikit larut namun semakin lama CaCO3 tidak dapat melarut lagi
karena sudah berada pada titik jenuh. Pada saat penambahan larutan HCl 6 M
larutan yang semula berwarna putih keruh berubah menjadi jernih tidak berwarna,
karena ion dalam CaCO3 dalam keadaan seimbang setelah ditambahkan
larutan HCl 6 M. Dalam percobaan ini dibutuhkan 12 tetes HCl 6 M agar gas CO2
menghilang dan menghasilkan larutan CaCl2 yang jernih dan tidak
berwarna.
reaksi yang terjadi :
CaCO3
(s) + H2O (l) CaCO3 (s)
CaCO3
(s) + 2HCl (aq) CaCl2
(aq) + H2O (l) + CO2 (g)
Larutan CaCl2
sebagai baku primer karena zatnya stabil dan tersedia dalam kemurnia yang
tinggi, dikatanya sebagai larutan baku primer karena konsentrasinya diketahui dengan penimbangan
secara tepat zat kimia yang benar-benar murni dan dilarutkan dalam sejumlah
pelarut tertentu. Penimbangan kalsium karbonat (CaCO3)
dilakukan dengan seksama sehingga diperoleh berat sebesar 0,081 gram agar
diperoleh larutan standar primer yang sesuai dimana konsentrasinya diketahui
dengan tepat. Sehingga Larutan EDTA sebagai baku sekunder yang akan diketahui
konsentrasinya dari larutan baku primer (CaCl2)
Kemudian
diambil 10 mL larutan CaCl2
dengan pipet seukuran dan dimasukkan dalam erlenmeyer. Ditambahkan larutan
buffer pH 10 sebanyak 2 mL, kemudian ditambahkan 3 tetes indikator EBT,
sehingga larutan mengalami perubahan dari tidak berwarna menjadi merah anggur.
Larutan buffer
ini tidak berwarna dan berbau seperti telur busuk. Penambahan larutan buffer
ini menghasilkan larutan yang tidak berwarna. Penambahan ini dimaksudkan untuk
menjaga pH larutan tidak turun (menjadi asam). Hal ini dikarenakan pH pada saat titrasi, pH larutan
akan turun karena pada reaksinya, EDTA akan menghasilkan H+ dihasilkannya
H+ ini menjadikan pH larutan akan turun menjadi asam, hal ini
tentunya akan mempengaruhi titrasi karena indikator EBT akan bekerja pada pH
7-11. Agar indikator EBT bekerja pada pH 7-11, maka pH titrasi perlu
dijaga/disangga oleh larutan buffer. Selain itu penggunaan indikator EBT dalam percobaan ini karena indikator ini
dapat berikatan secara langsung ion kalsium (Ca2+). Pada penggunaan
indikator EBT haruslah segera dititrasi karena EBT bersifat tidak stabil
sehingga dapat mempengaruhi hasil titrasi (perubahan warna, setelah tercapai
titik akhir larutan berwarna biru akan kembali ke warna awal setelah dibiarkan
jika jarak pemberian indikator EBT dengan proses titrasi terlalu lama).
Pada saat penambahan indikator terjadi reaksi antara
ion kalsium (Ca2+) dengan indikator EBT, seperti reaksi di bawah ini
:
CaCO3 + In3-
à CaI-
(merahanggur)
Selanjutnya
dititrasi dengan Na-EDTA dalam buret yang terlebih dahulu dicuci dengan larutan
tersebut agar tidak ada zat lain sebagai zat pengotor kecuali larutan Na-EDTA
itu sendiri. Dititrasi larutan dalam erlenmeyer dengan Na-EDTA sampai terjadi
perubahan warna dari merah anggur menjadi biru (titik akhir titrasi)
Pada awal titrasi ini
larutan berwarna merah anggur dimana larutan CaCO3 akan bereaksi
dengan indikator EBT membentuk senyawa kompleks CaEBT berwarna merah anggur. Kompleks logam-indikator yang terbentuk menghasilkan
warna merah anggur dimana setelah penambahan garam EDTA, ion logam akan bebas
dan berikatan dengan Na2EDTA sehingga indikator akan berubah warna
dari warna indikator yang membentuk kompleks dengan ion logam ke warna
indikator yang bebas dari ion logam. Hal ini disebabkan karena kompleks
logam-indikator lebih lemah daripada kompleks logam-EDTA sehingga EDTA yang
ditambahkan selama titrasi akan mengikat ion logam bebas.
Reaksi yang terjadi :
CaI- + Na2EDTA
à CaEDTA + I3-
+ 2Na+
(merah
anggur) (biru)
Kompleks Ca-EDTA
Diperoleh
volume yang dibutuhkan dan diulangi sebanyak 3 kali. Sehingga diperoleh volume
Na-EDTA yang dibutuhkan
·
Volume Na-EDTA saat
percobaan A = 7,2 mL
·
Volume Na-EDTA saat
percobaan B = 7,4 mL
·
Volume Na-EDTA saat
percobaan C = 7,4 mL
Setelah itu dihitung normalitas
dari larutan Na-EDTA menggunakan rumus
erikut ini adalah normalitas
larutan Na-EDTA yang diperoleh setiap percobaan :
·
Normalitas larutan
Na-EDTA pada percobaan A = 0,01125 N
·
Normalitas larutan Na-EDTA
pada percobaan B = 0,01094 N
·
Normalitas larutan
Na-EDTA pada percobaan C = 0,01094 N
Kemudian dari
Normalitas larutan Na-EDTA yang diperoleh diatas, dirata-rata untuk mendapatkan
normalitas larutan Na-EDTA rata-rata yaitu
= 0,01140 N
2. Menentukan Kesadahan Ca
Air PDAM di Perum Griya Citra Asri RT 1 RW 7 Sememi- Benowo
Pada
percobaan kedua, menentukan Kesadahan Ca dari suatu sampel air PDAM di Perum
Griya Citra Asri RT 1 RW 7 Sememi- Benowo. Langkah pertama, Diambil 10 mL
sampel air sumur yang tidak berwarna tersebut dengan pipet seukuran dan dimasukkan
ke dalam Erlenmeyer 250 mL. Kemudian ke dalam sampel air sumur ditambahkan 1 mL
larutan buffer dengan pH 10 yang tidak berwarna dan menghasilkan larutan yang juga
tidak berwarna. Selanjutnya, ditambahkan 3 tetes indikator EBT yang berwarna
merah anggur sehingga larutan berwarna merah anggur. Kemudian dititrasikan
dengan larutan Na-EDTA yang telah distandarisasi sebelumnya dan dihentikan saat
terjadi perubahan warna menjadi biru (titik akhir).
Penambahan
larutan buffer ini menghasilkan larutan yang tidak berwarna. Penambahan ini
dimaksudkan untuk menjaga pH larutan tidak turun (menjadi
asam). Hal ini dikarenakan pH pada saat
titrasi, pH larutan akan turun karena pada reaksinya, EDTA akan menghasilkan H+
dihasilkannya H+ ini menjadikan pH larutan akan turun menjadi asam,
hal ini tentunya akan mempengaruhi titrasi karena indikator EBT akan bekerja
pada pH 7-11. Agar indikator EBT bekerja pada pH 7-11, maka pH titrasi perlu
dijaga/disangga oleh larutan buffer. Selain itu penggunaan indikator EBT dalam percobaan ini karena indikator ini
dapat berikatan secara langsung ion kalsium (Ca2+). Pada penggunaan
indikator EBT haruslah segera dititrasi karena EBT bersifat tidak stabil
sehingga dapat mempengaruhi hasil titrasi (perubahan warna, setelah tercapai
titik akhir larutan berwarna biru akan kembali ke warna awal setelah dibiarkan
jika jarak pemberian indikator EBT dengan proses titrasi terlalu lama).
Pada saat penambahan indikator terjadi reaksi antara
ion kalsium (Ca2+) dengan indikator EBT, seperti reaksi di bawah ini
:
CaCO3 + In3-
à CaI-
(merah anggur)
Dititrasi
air sampel dengan Na-EDTA sampai terjadi perubahan warna dari merah anggur
menjadi biru (titik akhir titrasi)
Pada awal titrasi ini
larutan berwarna merah anggur dimana larutan CaCO3 akan bereaksi
dengan indikator EBT membentuk senyawa kompleks CaEBT berwarna merah anggur. Kompleks logam-indikator yang terbentuk menghasilkan
warna merah anggur dimana setelah penambahan garam EDTA, ion logam akan bebas
dan berikatan dengan Na2EDTA sehingga indikator akan berubah warna
dari warna indikator yang membentuk kompleks dengan ion logam ke warna
indikator yang bebas dari ion logam. Hal ini disebabkan karena kompleks
logam-indikator lebih lemah daripada kompleks logam-EDTA sehingga EDTA yang
ditambahkan selama titrasi akan mengikat ion logam bebas.
Reaksi yang terjadi :
CaI- + Na2EDTA
à CaEDTA + I3-
+ 2Na+
(merah
anggur) (biru)
Dicatat volume
Na-EDTA untuk titrasi dan percobaan dilakukan 3 kali dengan volume sampel air PDAM
yang sama.
·
Volume Na-EDTA saat
percobaan A = 1,6 mL
·
Volume Na-EDTA saat
percobaan B = 1,5 mL
·
Volume Na-EDTA saat
percobaan C = 1,4 mL
Setelah itu dihitung Kesadahan
Ca dengan menggunakan rumus
Kesadahan Ca
(ppm) =
erikut ini adalah Kesadahan Ca yang
diperoleh setiap percobaan :
·
Kesadahan Ca pada
percobaan A = 176,64 ppm
·
Kesadahan Ca pada
percobaan B = 165,6 ppm
·
Kesadahan Ca pada
percobaan C = 154,56 ppm
Kemudian dari
Kesadahan Ca yang diperoleh diatas, dirata-rata untuk mendapatkan Kesadahan
Ca rata-rata yaitu
= 165,6 ppm.
Kesadahan Ca dari sampel air
tersebut adalah 165,6 ppm masih bisa dikonsumsi karena belum mencapai 500 ppm
yang merupakan parameter wajib sadah menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 tahun 2010.
Standar kesadahan menurut WHO, 1984, mengemukakan bahwa :
a. Sangat lunak
sama sekali tidak mengandung CaCO3;
b. Lunak
mengandung 0-60 ppm CaCO3;
c. Agak sudah
mengandung 60-120 ppm CaCO3;
d. Sadah mengandung
120-180 ppm CaCO3;
e. Sangat sadah
180 ppm ke atas.
Sehingga
air sampel tersebut tergolong dalam “sadah” karena mengadung 165,6 ppm dan masih
dapat dikonsumsi karena belum sampai 500 ppm. Hal ini disebabkan karena faktor
alami, yaitu letak daerah pengambilan sampel terdapat pabrik industry, sehingga
terdapat pencemaran air di daerah tersebut namun tidak besar.
KESIMPULAN
1. Standarisasi
larutan Na-EDTA dengan larutan baku CaCl2, diperoleh volume Na-EDTA yang dibutuhkan dalam
3 kali pengulangan berturut-turut 7,2 mL ; 7,4 mL ; 7,4 mL. Sehingga, Normalitas
larutan Na-EDTA pada 3 kali pengulangan yaitu
. Sehingga Normalitas Na-EDTA
rata-rata sebesar 0,01140
N.
2. Penentukan
Kesadahan Ca Air PDAM di Perum Griya Citra Asri RT 1 RW 7 Sememi- Benowo,
diperoleh volume Na-EDTA yang dibutuhkan dalam 3 kali pengulangan
berturut-turut 1,6 mL ; 1,5 mL ; 1,4 mL. Sehingga, Kesadahan Ca dalam sampel
air pada 3 kali pengulangan yaitu
. Diperoleh kesadahan total 165,6
ppm termasuk dalam tingkat “sadah” menurut standar WHO 1984. Hal tersebut bisa
dikarena faktor alam pada daerah tersebut terdapat banyak pabrik dan pencemaran
air, namun air PDAM tersebut masih bisa dikonsumsi karena belum melebihi ambang
batas 500 ppm yang menurut Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 492 tahun 2010.



0 komentar:
Posting Komentar