BIBLIOGRAFI
KEPUSTAKAAN KIMIA

Oleh :
ZUMROTUS SHOLIHAH
15030194022
PKA 2015
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
PENDIDIKAN KIMIA
2017
1.
Pengertian
“Apabila gugus hidroksil dirangkaikan
pada suatu atom karbon dari lingkar benzene, senyawa itu dikenal sebagai fenol.”
(Cram,et al ,1988:53)
“Suatu fenol (ArOH) ialah senyawaan
dengan suatu gugus OH yang terikat pada cincin aromatik.” (Fessenden dan
Fessenden,1982 : 516 )
“Senyawa yang mempunyai suatu gugus
hidroksil yang terikat pada sebuah cincin benzene disebut fenol, bukannya
alkohol.” (Keenan, Charles, Kleinfelter, Wood,
1986 : 390)
“Senyawa fenol (C6H5OH) adalah anggota
paling sederhana dari golongan fenol. Anggota golongan fenol yang lain diberi
nama dengan sistem IUPAC atau dengan nama trivial. Dalam contoh-contoh berikut
yang ditulis di antara tanda kurung aalah nama
trivial. Hidroksibenzena (fenol), m-hidroksitouena
(m-kresol), 1,2-dihidroksibenzena (katekol).” ( Parlan dan Wahjudi, 2003 : 141)
2.
Sifat
kimia
“The most characteristic property of
phenols is their acidity. Phenols are 106-108 times more
acidic than alcohols. Recall that alcohols have ionization constants Ka in the 10-16-10-18
range ( PKa 16-18).
Whereas the Ka for most
phenols is about 10-10 (PKa
10).” (Atkins, 1944 :261)
“Fenol,
dengan pKa = 10, merupakan
asam yang lebih kuat daripada alkohol atau air.” (Fessenden dan Fessenden,1982
: 516)
“Alasan utama mengapa fenol bersifat
lebih asam dibandingkan dengan air dan alkohol ialah karena ion fenoksida
dimantapkan oleh resonansi. Muatan negatif pada hidroksida atau alkoksida tetap
tinggal pada atom oksigen, sedangkan pada ion fenoksida muatan ini dapat
didelokalisasi pada posisi-posisi orto dan para
pada cincin benzene melalui resonansi).”
(Hart, 1983 : 166)
“Keasaman
fenol yang lebih besar daripada alkohol disebabkan oleh adanya stabilisasi
resonansi pada ion fenoksida. Pada ion
etoksida, muatan negatif terlokalisasi pada atom oksigen. Pada ion fenoksida
muatan negatif terdelokalisasi paa posisi orto dan para dalam cincin benzena.
Delokalisasi muatan semacam ini mengakibatkan stabilitas ion fenoksida lebih
besar daripada ion etoksida. Karena kestabilan yang lebih besar itulah maka
fenol lebih kuat keasamannya daripada etanol.” ( Parlan dan Wahjudi, 2003 :
143)
“Adanya subtituen dapat menaikkan atau
menurunkan kekuatan asam senyawa fenol. Dengan adanya subtituen gugus penarik
elektron, maka keasaman fenol akan naik.” (Riswiyanto, 2009 :346)
3.
Sifat
fisik
“Fenol merupakan zat cair yang bertitik
didih tinggi atau zat padat dengan bau khas yang menusuk.” (Cram, et al,
1988 :53)
“Fenol mudah dioksidasi. Fenol yang
dibiarkan diudara terbuka cepat berubah warna karena pembentukan hasil-hasil
oksidasi).” (Hart, 1983 : 178 )
“Seperti halnya golongan amina aromatik,
golongan fenol mudah sekali teroksidasi, dan memberikan hasil oksidasi yang
berwarna (kecuali bila derajat kemurniannya tinggi).” ( Parlan dan Wahjudi, 2003 : 142)
“Fenol larut dalam air (9 g per 100 g air), tetapi
sebagian besar turunan fenol tidak larut dalam air.” (Riswiyanto, 2009 : 344)
4.
Tata
nama
“Fenol umunya diberi nama menurut
senyawa induknya. Kimiawi fenol telah diketahui lama sebelum pengetahuan kimia
organic, sehingga banyak fenol mempunyai
nama-nama umum. Metilfenol misalnya, dikenal sebagai Kresol (berasal dari kreosot, tar dari batu bara atau kayu yang
mengandung zat ini).” (Hart, 1983 : 164 )
5.
Reaksi
fenol
“Esterifikasi fenol tidak melibatkan
pemaksapisahan ikatan C – O yang kuat (dari) fenol itu, tetapi bergantung pada
pemaksapisahan ikatan OH. Oleh karena itu, ester fenol dapt disintesis dengan
reaksi-reaksi yang sama yang menghasilkan ester alkil.” (Fessenden dan Fessenden,1982 : 516 )
“Fenol dan fenoksida menjalani beberapa
reaksi yang agak menarik. Salah satunya ialah reaksi kalbe,yakni reaksi antara natrium fenoksida dan CO2 yang
menghasilkan natrium silsilat, yang menghasilkan asam salisilat bila
diasamkan.” (Fessenden dan Fessenden, 1994: 486)
“Bila fenol direaksikan dengan kloroform
dan larutan NaOH dalam air pada suhu 700C, menghasilkan
salisilaldehida. Reaksi ini dinamakan reaksi
Reimer-Tiemann.” ( Parlan dan Wahjudi, 2003 : 147)
“Fenol dapat dibuat menjadi eter (alkil
aril eter), dengan mereaksikan alkil halida dalam suasana basa alkali.”
(Riswiyanto, 2009: 351)
“Fenol
dapat dihidroksilasi dengan kalium persulfat (K2S2O3) dalam media alkali
(oksidasi persulfat ELBS). Produk awal oksidadi adalah persulfat yang kemudian
dihidrolisis menjadi hidrokuinon. Produk orto
(turunan pirokatekol) dibentuk jika kedudukan para diblok.” (Sastrohamidjojo dan Pranowo, 2009 : 95)
6.
Pembuatan
“Phenolic compounds are quite common
natural products and are found in both
plants and animals. The phenolic group may be part of molecules that are
chemically quite different.” (Atkins, 1944 : 262)
“Pembuatan fenol yang umum adalah dengan
menhidrolisis garam-garam diazonium. Cara lainnya telah dihasilkan oleh
Underfriend, yaitu dengan menggunakan sistem oksigen-ion fero-asam askorbat
dengan adanya EDTA (pereaksi Underfriend).” (Sastrohamidjojo dan Pranowo, 2009 : 94)
7.
Identifikasi
keberadaan fenol
“Test ini berguna untuk mengetahui
adanya senyawa fenol. Reaksi antara fenol dan feri klorida memberikan senyawa
komplek yang berwarna merah,hiaju,biru atau ungu. Warna yang diperoleh
tergantung pada subtituen yang terikat pada fenol. Senyawa organik lain yang
juga memberikan warna dengan membentuk senyawa kompleks ferriklorida adalah
enol dan oksime.” (Anwar, et al ,
1994 : 206)
“Cara terbaik untuk memisahkan dan
mengidentifikasi senyawa fenol sederhana ialah dengan kromatografi lapis tipis
(KLT). Biasanya senyawa fenol dideteksi setelah hidrolisis jaringan tumbuhan
(segar atau kering) dalam suasana asama atau basa atau setelah pemekatan
ekstrak tumbuhan dalam etanol-air.” (Harborner, 1987: 51)
8.
Manfaat
“Fenol dan kresol (hidroksitoluena)
berasal dari ter arang, dan banyak digunakan dalam obat-obatan. Fenolnya
sendiri yang juga dikenal sebagai asam karbol digunakan sebagai disinfektan.” (Cram, et al, 1988 : 53)
“Peranan bebrapa golongan senyawa fenol
sudah diketahui (misalnya lignin sebagai bahan pembangunan dinding sel,
antisianin sebagai pigmen bunga), sedangkan peranan senyawa yang termasuk
golongan lain masih merupakan hasil dugaan belaka.” (Harborner, 1987 :47)
“Senyawa fenol yang ditambahkan akan
teroksidasi akan berfungsi sebagai antioksidan. Antioksidan fenolik komersial
adalah BHA (butyl hidroksi anisol) dan BHT (butyl hidroksi toluena).” (Hart,
1983 : 178 )
“Minyak creosote, suatu cairan berminyak yang diperoleh dengan menyuling
ter batubara dan ter beechwood,
mengandung fenol dalam bagian besar, termasuk kresol. Digunakan sebagai
pengawet kayu.” (Keenan, Charles, Kleinfelter, Wood, 1986 : 390)
“Senyawa fenol banyak terdapat di alam
dan merupakan intermediet bagi industry untuk berbagai macam produk seperti
adhesive dan antiseptik. Fenol sendiri dapat dipakai sebagai disinfektan dan
diperoleh dari tar-batubara. Beberapa contoh fenol adalah : metal, salisilat,
didapat dari pohon menjalar di Amerika Serikat; tirosin, asam amino yang
terdapat pada protein; eugenol, terdapat dalam minyak dari daun cengkeh; dan thymol (timol), terdapat dalam thyme.” (Riswiyanto, 2009 : 343)
“Beberapa tumbuhan tampaknya menjadi
tahan terhadap serangan fungus karena senyawa fenol yang dikandungnya, tetapi
ketahanannya itu mungkin bersifat khas, hanya terhadap jenis fungus tertentu.
Beberapa senyawa fenolik bersifat menolak ata racun terhadap hewan pemangsa
tumbuhan (herbivora), beberapa bersifat racun serangga, sementara senyawa fenol
lain mempengeruhi perkembangbiakan binatang mengerat.” (Robinson, 1995: 59)
9.
Dampak
negatif
“Bagi biokimiawan tumbuhan, senyawa
fenol-tumbuhan dapat menimbulkan gangguan besar karena kamampuannya membentuk
kompleks dengan protein melalui ikatan hydrogen. Bila kandungan sel tumbuhan
bercampur dan membrane menjadu rusak selama proses isolasi, senyawa fenol cepat
sekali membentuk kompleks dengan protein. Akibatnya, sering terjadi hambatan
terhadap kerja enzim pada ekstrak tumbuhan kasar.”(Harborner, 1987: 48)
“Fenol , C6H5OH anggota tersederhana dari kelas senyawa ini,
juga dikenal sebagai asam karbonat.
Sangat merusak jaringan hewan.” (Keenan, Charles,
Kleinfelter, Wood, 1986 : 390)
BIBLIOGRAFI
1.
Pengertian
Cram, D.J.,
et al .
1988. Kimia Organik 1. Diterjemahkan
oleh : Roehyati Joedodibroto dan Sasanti W. Purbo-Hadiwidjoyo. Bandung : ITB
Fessenden, Ralph J dan Joan S. Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid II . Edisi kedua. Diterjemahkan
oleh : Pujaatmaka. Jakarta : ERLANGGA
Keenan, Charles W., D.C. Kleinfelter., J.H Wood. 1986. Ilmu
Kimia untuk Universitas Jilid 2. Edisi
keenam. Diterjemahkan oleh : Aloysius
Hadyana Pudjaatmaka. Jakarta:
ERLANGGA
Parlan dan Wahjudi.2003.Kimia organic I.Malang : Technical Cooperation Project for
Development of Science and Mathematics Teaching for Primary and Secondary
Education in Indonesia
2.
Sifat
Kimia
Atkins, robert C. and Francis A Carey.1944. Organic chemistry : a brief course.3rd
ed. America : The McGraw-Hill Companies,Inc
Fessenden, Ralph J dan Joan S. Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid II . Edisi kedua.
Diterjemahkan oleh : pujaatmaka. Jakarta : ERLANGGA
Hart, Harold. 1983. Kimia Organik suatu kuliah singkat.Edisi keenam. Diterjemahkan oleh
: Suminar Achmadi. Jakarta : ERLANGGA
Parlan dan Wahjudi.2003. Kimia organic I.Malang : Technical Cooperation Project for
Development of Science and Mathematics Teaching for Primary and Secondary
Education in Indonesia
Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga
3.
Sifat
Fisik
Cram, D.J.,
et al .
1988. Kimia Organik 1. Diterjemahkan
oleh : Roehyati Joedodibroto dan Sasanti W.
Purbo-Hadiwidjoyo. Bandung : ITB
Hart, Harold. 1983. Kimia Organik suatu kuliah singkat.Edisi keenam. Diterjemahkan oleh
: Suminar Achmadi.
Jakarta : ERLANGGA
Parlan dan Wahjudi.2003. Kimia organic I.Malang : Technical Cooperation Project for Development
of Science and Mathematics Teaching for Primary and Secondary Education in
Indonesia
Riswiyanto.
2009. Kimia Organik. Jakarta:
Erlangga
4.
Tata
nama
Hart, Harold. 1983. Kimia Organik suatu kuliah singkat.Edisi keenam. Diterjemahkan oleh
: Suminar Achmadi.
Jakarta : ERLANGGA
5.
Reaksi
Fessenden, Ralph J dan Joan S. Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid II . Edisi kedua.
Diterjemahkan oleh : Pujaatmaka.
Jakarta : ERLANGGA
-----------------------------------------------------------.
1994. Kimia Organik Jilid I . Edisi
ketiga. Diterjemahkan oleh : Pujaatmaka. Jakarta : ERLANGGA
Parlan dan Wahjudi.2003. Kimia organic I.Malang : Technical Cooperation Project for Development
of Science and Mathematics Teaching for Primary and Secondary Education in
Indonesia
Riswiyanto.
2009. Kimia Organik. Jakarta:
Erlangga
Sastrohamidjojo, Hardjono dan Harno dwi Pranowo.
2009. Sintesis Senyawa Organik.
Jakarta : Erlangga
6.
Pembuatan
Atkins, robert C. and Francis A Carey.1944. Organic chemistry : a brief course.3rd
ed. America : The McGraw-Hill Companies,Inc.
Sastrohamidjojo, Hardjono dan Harno dwi Pranowo.
2009. Sintesis Senyawa Organik.
Jakarta : Erlangga
7.
Identifikasi
Anwar, Chairil., et
al.1994.Pengantar Praktikum Kimia
Organik.Yogyakarta: FMIPA
Universitas Gadjah Mada
Harborner, J.B. 1987. Metode Fitokimia: penentuan cara modern analisis tumbuhan. Edisi
kedua. Diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Bandung : ITB
8.
Manfaat
Cram, D.J.,
et al .
1988. Kimia Organik 1. Diterjemahkan
oleh : Roehyati Joedodibroto dan Sasanti W.
Purbo-Hadiwidjoyo. Bandung : ITB
Harborner, J.B. 1987. Metode Fitokimia: penentuan cara modern analisis tumbuhan. Edisi
kedua. Diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Bandung : ITB
Hart, Harold. 1983. Kimia Organik suatu kuliah singkat.Edisi keenam. Diterjemahkan oleh
: Suminar Achmadi.
Jakarta : ERLANGGA
Keenan, Charles W., D.C. Kleinfelter., J.H Wood. 1986. Ilmu
Kimia untuk Universitas Jilid 2. Edisi
keenam. Diterjemahkan oleh : Aloysius
Hadyana Pudjaatmaka. Jakarta:
ERLANGGA
Riswiyanto.
2009. Kimia Organik. Jakarta:
Erlangga
Robinson, Trevor. 1995. Kandungan organik tumbuhan tinggi. Diterjemahkan oleh :
Padmawinata. Bandung : ITB
9.
Dampak
Harborner, J.B. 1987. Metode Fitokimia: penentuan cara modern analisis tumbuhan. Edisi
kedua. Diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Bandung : ITB
Keenan, Charles W., D.C. Kleinfelter., J.H Wood. 1986. Ilmu
Kimia untuk Universitas Jilid 2. Edisi
keenam. Diterjemahkan oleh : Aloysius
Hadyana Pudjaatmaka. Jakarta:
ERLANGGA



0 komentar:
Posting Komentar