Rabu, 22 Maret 2017

FENOL-BIBLIOGRAFI-KUTIPAN-KEPUSKIM



BIBLIOGRAFI
KEPUSTAKAAN KIMIA
Description: C:\Users\Acer\Pictures\2015-08-25-14-15-36-1366265499.jpeg

     Oleh  :
                ZUMROTUS SHOLIHAH
                            15030194022
                                PKA 2015



UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
PENDIDIKAN KIMIA
2017



1.      Pengertian
“Apabila gugus hidroksil dirangkaikan pada suatu atom karbon dari lingkar benzene, senyawa itu dikenal sebagai fenol.  (Cram,et al ,1988:53)

“Suatu fenol (ArOH) ialah senyawaan dengan suatu gugus OH yang terikat pada cincin aromatik.” (Fessenden dan Fessenden,1982 : 516 )

“Senyawa yang mempunyai suatu gugus hidroksil yang terikat pada sebuah cincin benzene disebut fenol, bukannya alkohol.”  (Keenan, Charles, Kleinfelter, Wood, 1986 : 390)

“Senyawa fenol (C6H5OH) adalah anggota paling sederhana dari golongan fenol. Anggota golongan fenol yang lain diberi nama dengan sistem IUPAC atau dengan nama trivial. Dalam contoh-contoh berikut yang ditulis di antara tanda kurung aalah nama trivial.  Hidroksibenzena (fenol), m-hidroksitouena (m-kresol), 1,2-dihidroksibenzena (katekol).” ( Parlan dan Wahjudi, 2003 : 141)

2.    Sifat kimia
“The most characteristic property of phenols is their acidity. Phenols are 10­6-108 times more acidic than alcohols. Recall that alcohols have ionization constants K­a in the 10-1­6-10-18 range ( PK­a 16-18). Whereas the K­a for most phenols is about 10-10 (PK­a 10).”  (Atkins, 1944 :261)

 “Fenol, dengan pKa = 10, merupakan asam yang lebih kuat daripada alkohol atau air.” (Fessenden dan Fessenden,1982 : 516)

“Alasan utama mengapa fenol bersifat lebih asam dibandingkan dengan air dan alkohol ialah karena ion fenoksida dimantapkan oleh resonansi. Muatan negatif pada hidroksida atau alkoksida tetap tinggal pada atom oksigen, sedangkan pada ion fenoksida muatan ini dapat didelokalisasi pada posisi-posisi orto  dan para pada cincin benzene melalui resonansi).”  (Hart, 1983 : 166)

“Keasaman fenol yang lebih besar daripada alkohol disebabkan oleh adanya stabilisasi resonansi pada ion fenoksida.  Pada ion etoksida, muatan negatif terlokalisasi pada atom oksigen. Pada ion fenoksida muatan negatif terdelokalisasi paa posisi orto dan para dalam cincin benzena. Delokalisasi muatan semacam ini mengakibatkan stabilitas ion fenoksida lebih besar daripada ion etoksida. Karena kestabilan yang lebih besar itulah maka fenol lebih kuat keasamannya daripada etanol.” ( Parlan dan Wahjudi, 2003 : 143)
 “Adanya subtituen dapat menaikkan atau menurunkan kekuatan asam senyawa fenol. Dengan adanya subtituen gugus penarik elektron, maka keasaman fenol akan naik.” (Riswiyanto, 2009 :346)



3.    Sifat fisik
“Fenol merupakan zat cair yang bertitik didih tinggi atau zat padat dengan bau khas yang menusuk.” (Cram, et al, 1988 :53)

“Fenol mudah dioksidasi. Fenol yang dibiarkan diudara terbuka cepat berubah warna karena pembentukan hasil-hasil oksidasi).”  (Hart, 1983 : 178 )

“Seperti halnya golongan amina aromatik, golongan fenol mudah sekali teroksidasi, dan memberikan hasil oksidasi yang berwarna (kecuali bila derajat kemurniannya tinggi).”    ( Parlan dan Wahjudi, 2003 : 142)

“Fenol larut dalam air (9 g per 100 g air), tetapi sebagian besar turunan fenol tidak larut dalam air.” (Riswiyanto, 2009 : 344)  

4.    Tata nama
“Fenol umunya diberi nama menurut senyawa induknya. Kimiawi fenol telah diketahui lama sebelum pengetahuan kimia organic, sehingga banyak fenol  mempunyai nama-nama umum. Metilfenol misalnya, dikenal sebagai Kresol (berasal dari kreosot, tar dari batu bara atau kayu yang mengandung zat ini).” (Hart, 1983 : 164 )

5.    Reaksi fenol
“Esterifikasi fenol tidak melibatkan pemaksapisahan ikatan C – O yang kuat (dari) fenol itu, tetapi bergantung pada pemaksapisahan ikatan OH. Oleh karena itu, ester fenol dapt disintesis dengan reaksi-reaksi yang sama yang menghasilkan ester alkil.”  (Fessenden dan Fessenden,1982 : 516 )

“Fenol dan fenoksida menjalani beberapa reaksi yang agak menarik. Salah satunya ialah reaksi kalbe,yakni reaksi antara natrium fenoksida dan CO2 yang menghasilkan natrium silsilat, yang menghasilkan asam salisilat bila diasamkan.” (Fessenden dan Fessenden, 1994: 486)

“Bila fenol direaksikan dengan kloroform dan larutan NaOH dalam air pada suhu 700C, menghasilkan salisilaldehida. Reaksi ini dinamakan reaksi Reimer-Tiemann.” ( Parlan dan Wahjudi, 2003 : 147)

“Fenol dapat dibuat menjadi eter (alkil aril eter), dengan mereaksikan alkil halida dalam suasana basa alkali.” (Riswiyanto, 2009: 351)

“Fenol dapat dihidroksilasi dengan kalium persulfat (K2S2O3) dalam media alkali (oksidasi persulfat ELBS). Produk awal oksidadi adalah persulfat yang kemudian dihidrolisis menjadi hidrokuinon. Produk orto (turunan pirokatekol) dibentuk jika kedudukan para diblok.” (Sastrohamidjojo dan Pranowo, 2009 : 95)
6.    Pembuatan
“Phenolic compounds are quite common natural products and are found in both  plants and animals. The phenolic group may be part of molecules that are chemically quite different.” (Atkins, 1944 : 262)

“Pembuatan fenol yang umum adalah dengan menhidrolisis garam-garam diazonium. Cara lainnya telah dihasilkan oleh Underfriend, yaitu dengan menggunakan sistem oksigen-ion fero-asam askorbat dengan adanya EDTA (pereaksi Underfriend).”  (Sastrohamidjojo dan Pranowo, 2009 : 94)

7.    Identifikasi keberadaan fenol
“Test ini berguna untuk mengetahui adanya senyawa fenol. Reaksi antara fenol dan feri klorida memberikan senyawa komplek yang berwarna merah,hiaju,biru atau ungu. Warna yang diperoleh tergantung pada subtituen yang terikat pada fenol. Senyawa organik lain yang juga memberikan warna dengan membentuk senyawa kompleks ferriklorida adalah enol dan oksime.” (Anwar, et al , 1994 : 206)

“Cara terbaik untuk memisahkan dan mengidentifikasi senyawa fenol sederhana ialah dengan kromatografi lapis tipis (KLT). Biasanya senyawa fenol dideteksi setelah hidrolisis jaringan tumbuhan (segar atau kering) dalam suasana asama atau basa atau setelah pemekatan ekstrak tumbuhan dalam etanol-air.” (Harborner, 1987: 51)

8.    Manfaat
“Fenol dan kresol (hidroksitoluena) berasal dari ter arang, dan banyak digunakan dalam obat-obatan. Fenolnya sendiri yang juga dikenal sebagai asam karbol digunakan sebagai disinfektan.” (Cram, et al, 1988 : 53)

“Peranan bebrapa golongan senyawa fenol sudah diketahui (misalnya lignin sebagai bahan pembangunan dinding sel, antisianin sebagai pigmen bunga), sedangkan peranan senyawa yang termasuk golongan lain masih merupakan hasil dugaan belaka.” (Harborner, 1987 :47)

“Senyawa fenol yang ditambahkan akan teroksidasi akan berfungsi sebagai antioksidan. Antioksidan fenolik komersial adalah BHA (butyl hidroksi anisol) dan BHT (butyl hidroksi toluena).” (Hart, 1983 : 178 )

“Minyak creosote, suatu cairan berminyak yang diperoleh dengan menyuling ter batubara dan ter beechwood, mengandung fenol dalam bagian besar, termasuk kresol. Digunakan sebagai pengawet kayu.” (Keenan, Charles, Kleinfelter, Wood, 1986 : 390)

“Senyawa fenol banyak terdapat di alam dan merupakan intermediet bagi industry untuk berbagai macam produk seperti adhesive dan antiseptik. Fenol sendiri dapat dipakai sebagai disinfektan dan diperoleh dari tar-batubara. Beberapa contoh fenol adalah : metal, salisilat, didapat dari pohon menjalar di Amerika Serikat; tirosin, asam amino yang terdapat pada protein; eugenol, terdapat dalam minyak dari daun cengkeh; dan thymol (timol), terdapat dalam thyme.” (Riswiyanto, 2009 : 343)

“Beberapa tumbuhan tampaknya menjadi tahan terhadap serangan fungus karena senyawa fenol yang dikandungnya, tetapi ketahanannya itu mungkin bersifat khas, hanya terhadap jenis fungus tertentu. Beberapa senyawa fenolik bersifat menolak ata racun terhadap hewan pemangsa tumbuhan (herbivora), beberapa bersifat racun serangga, sementara senyawa fenol lain mempengeruhi perkembangbiakan binatang mengerat.” (Robinson, 1995: 59)

9.    Dampak negatif
“Bagi biokimiawan tumbuhan, senyawa fenol-tumbuhan dapat menimbulkan gangguan besar karena kamampuannya membentuk kompleks dengan protein melalui ikatan hydrogen. Bila kandungan sel tumbuhan bercampur dan membrane menjadu rusak selama proses isolasi, senyawa fenol cepat sekali membentuk kompleks dengan protein. Akibatnya, sering terjadi hambatan terhadap kerja enzim pada ekstrak tumbuhan kasar.”(Harborner, 1987: 48)

“Fenol , C6H5OH  anggota tersederhana dari kelas senyawa ini, juga dikenal sebagai asam karbonat. Sangat merusak jaringan hewan.” (Keenan, Charles, Kleinfelter, Wood, 1986 : 390)
























BIBLIOGRAFI

1.    Pengertian
Cram, D.J., et al . 1988. Kimia Organik 1. Diterjemahkan oleh : Roehyati Joedodibroto dan Sasanti W. Purbo-Hadiwidjoyo. Bandung : ITB
Fessenden, Ralph J dan Joan S. Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid II . Edisi kedua. Diterjemahkan oleh : Pujaatmaka. Jakarta : ERLANGGA
Keenan, Charles W., D.C. Kleinfelter., J.H Wood. 1986. Ilmu Kimia untuk Universitas Jilid 2. Edisi keenam. Diterjemahkan oleh :  Aloysius Hadyana Pudjaatmaka.  Jakarta: ERLANGGA
 Parlan dan Wahjudi.2003.Kimia organic I.Malang : Technical Cooperation Project for Development of Science and Mathematics Teaching for Primary and Secondary Education in Indonesia
2.    Sifat Kimia
Atkins, robert C. and Francis A Carey.1944. Organic chemistry : a brief course.3rd ed. America : The McGraw-Hill Companies,Inc
Fessenden, Ralph J dan Joan S. Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid II . Edisi kedua. Diterjemahkan oleh : pujaatmaka. Jakarta : ERLANGGA
Hart, Harold. 1983. Kimia Organik suatu kuliah singkat.Edisi keenam. Diterjemahkan oleh : Suminar Achmadi. Jakarta : ERLANGGA
Parlan dan Wahjudi.2003. Kimia organic I.Malang : Technical Cooperation Project for Development of Science and Mathematics Teaching for Primary and Secondary Education in Indonesia
Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga
3.    Sifat Fisik
Cram, D.J., et al . 1988. Kimia Organik 1. Diterjemahkan oleh : Roehyati Joedodibroto dan  Sasanti W. Purbo-Hadiwidjoyo. Bandung : ITB
Hart, Harold. 1983. Kimia Organik suatu kuliah singkat.Edisi keenam. Diterjemahkan oleh : Suminar Achmadi. Jakarta : ERLANGGA
Parlan dan Wahjudi.2003. Kimia organic I.Malang : Technical Cooperation Project for Development of Science and Mathematics Teaching for Primary and Secondary Education in Indonesia
Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga

4.    Tata nama
Hart, Harold. 1983. Kimia Organik suatu kuliah singkat.Edisi keenam. Diterjemahkan oleh : Suminar Achmadi. Jakarta : ERLANGGA
5.    Reaksi
Fessenden, Ralph J dan Joan S. Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid II . Edisi kedua. Diterjemahkan oleh : Pujaatmaka. Jakarta : ERLANGGA
-----------------------------------------------------------. 1994. Kimia Organik Jilid I . Edisi ketiga. Diterjemahkan oleh : Pujaatmaka. Jakarta : ERLANGGA
Parlan dan Wahjudi.2003. Kimia organic I.Malang : Technical Cooperation Project for Development of Science and Mathematics Teaching for Primary and Secondary Education in Indonesia
Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga
Sastrohamidjojo, Hardjono dan Harno dwi Pranowo. 2009. Sintesis Senyawa Organik. Jakarta : Erlangga
6.    Pembuatan
Atkins, robert C. and Francis A Carey.1944. Organic chemistry : a brief course.3rd ed. America : The McGraw-Hill Companies,Inc.
Sastrohamidjojo, Hardjono dan Harno dwi Pranowo. 2009. Sintesis Senyawa Organik. Jakarta : Erlangga
7.    Identifikasi
Anwar, Chairil., et al.1994.Pengantar Praktikum Kimia Organik.Yogyakarta: FMIPA Universitas Gadjah Mada
Harborner, J.B. 1987. Metode Fitokimia: penentuan cara modern analisis tumbuhan. Edisi kedua. Diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Bandung : ITB
8.    Manfaat
Cram, D.J., et al . 1988. Kimia Organik 1. Diterjemahkan oleh : Roehyati Joedodibroto dan  Sasanti W. Purbo-Hadiwidjoyo. Bandung : ITB
Harborner, J.B. 1987. Metode Fitokimia: penentuan cara modern analisis tumbuhan. Edisi kedua. Diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Bandung : ITB
Hart, Harold. 1983. Kimia Organik suatu kuliah singkat.Edisi keenam. Diterjemahkan oleh : Suminar Achmadi. Jakarta : ERLANGGA
Keenan, Charles W., D.C. Kleinfelter., J.H Wood. 1986. Ilmu Kimia untuk Universitas Jilid 2. Edisi keenam. Diterjemahkan oleh :  Aloysius Hadyana Pudjaatmaka.  Jakarta: ERLANGGA
Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga
Robinson, Trevor. 1995. Kandungan organik tumbuhan tinggi. Diterjemahkan oleh : Padmawinata. Bandung : ITB
9.    Dampak
Harborner, J.B. 1987. Metode Fitokimia: penentuan cara modern analisis tumbuhan. Edisi kedua. Diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Bandung : ITB
Keenan, Charles W., D.C. Kleinfelter., J.H Wood. 1986. Ilmu Kimia untuk Universitas Jilid 2. Edisi keenam. Diterjemahkan oleh :  Aloysius Hadyana Pudjaatmaka.  Jakarta: ERLANGGA


0 komentar:

Posting Komentar