Kamis, 23 Maret 2017

Kata Biasa---


                                     BUKAN SOAL PERTANYAAN
Jalanan ini, kau baca sepi atau tenang
Nampak gelap atau indah dengan sunsetNya
Nyamankah kau?
Jika harus melewati jalan ini?
Ragukah kau?
Jika hanya harus jalan ini
Kakimu akan bagaimana?
Maju satu langkah perlahan, lantar memilih putar balik
Tertumpuh satu kaki ambil ancang-ancang lalu berlari dengan cepat
Berjalan saja kedepan tanpa peduli sekitar
kakimu akan bagaimana?
berjalan santai, sambil menikmati yang ada
bisakah?
mampukah?

ketahuilah, dari semua tanda tanya itu
aku tidak benar-benar tertanya!

Rabu, 22 Maret 2017

FENOL-BIBLIOGRAFI-KUTIPAN-KEPUSKIM



BIBLIOGRAFI
KEPUSTAKAAN KIMIA
Description: C:\Users\Acer\Pictures\2015-08-25-14-15-36-1366265499.jpeg

     Oleh  :
                ZUMROTUS SHOLIHAH
                            15030194022
                                PKA 2015



UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
PENDIDIKAN KIMIA
2017



1.      Pengertian
“Apabila gugus hidroksil dirangkaikan pada suatu atom karbon dari lingkar benzene, senyawa itu dikenal sebagai fenol.  (Cram,et al ,1988:53)

“Suatu fenol (ArOH) ialah senyawaan dengan suatu gugus OH yang terikat pada cincin aromatik.” (Fessenden dan Fessenden,1982 : 516 )

“Senyawa yang mempunyai suatu gugus hidroksil yang terikat pada sebuah cincin benzene disebut fenol, bukannya alkohol.”  (Keenan, Charles, Kleinfelter, Wood, 1986 : 390)

“Senyawa fenol (C6H5OH) adalah anggota paling sederhana dari golongan fenol. Anggota golongan fenol yang lain diberi nama dengan sistem IUPAC atau dengan nama trivial. Dalam contoh-contoh berikut yang ditulis di antara tanda kurung aalah nama trivial.  Hidroksibenzena (fenol), m-hidroksitouena (m-kresol), 1,2-dihidroksibenzena (katekol).” ( Parlan dan Wahjudi, 2003 : 141)

2.    Sifat kimia
“The most characteristic property of phenols is their acidity. Phenols are 10­6-108 times more acidic than alcohols. Recall that alcohols have ionization constants K­a in the 10-1­6-10-18 range ( PK­a 16-18). Whereas the K­a for most phenols is about 10-10 (PK­a 10).”  (Atkins, 1944 :261)

 “Fenol, dengan pKa = 10, merupakan asam yang lebih kuat daripada alkohol atau air.” (Fessenden dan Fessenden,1982 : 516)

“Alasan utama mengapa fenol bersifat lebih asam dibandingkan dengan air dan alkohol ialah karena ion fenoksida dimantapkan oleh resonansi. Muatan negatif pada hidroksida atau alkoksida tetap tinggal pada atom oksigen, sedangkan pada ion fenoksida muatan ini dapat didelokalisasi pada posisi-posisi orto  dan para pada cincin benzene melalui resonansi).”  (Hart, 1983 : 166)

“Keasaman fenol yang lebih besar daripada alkohol disebabkan oleh adanya stabilisasi resonansi pada ion fenoksida.  Pada ion etoksida, muatan negatif terlokalisasi pada atom oksigen. Pada ion fenoksida muatan negatif terdelokalisasi paa posisi orto dan para dalam cincin benzena. Delokalisasi muatan semacam ini mengakibatkan stabilitas ion fenoksida lebih besar daripada ion etoksida. Karena kestabilan yang lebih besar itulah maka fenol lebih kuat keasamannya daripada etanol.” ( Parlan dan Wahjudi, 2003 : 143)
 “Adanya subtituen dapat menaikkan atau menurunkan kekuatan asam senyawa fenol. Dengan adanya subtituen gugus penarik elektron, maka keasaman fenol akan naik.” (Riswiyanto, 2009 :346)



3.    Sifat fisik
“Fenol merupakan zat cair yang bertitik didih tinggi atau zat padat dengan bau khas yang menusuk.” (Cram, et al, 1988 :53)

“Fenol mudah dioksidasi. Fenol yang dibiarkan diudara terbuka cepat berubah warna karena pembentukan hasil-hasil oksidasi).”  (Hart, 1983 : 178 )

“Seperti halnya golongan amina aromatik, golongan fenol mudah sekali teroksidasi, dan memberikan hasil oksidasi yang berwarna (kecuali bila derajat kemurniannya tinggi).”    ( Parlan dan Wahjudi, 2003 : 142)

“Fenol larut dalam air (9 g per 100 g air), tetapi sebagian besar turunan fenol tidak larut dalam air.” (Riswiyanto, 2009 : 344)  

4.    Tata nama
“Fenol umunya diberi nama menurut senyawa induknya. Kimiawi fenol telah diketahui lama sebelum pengetahuan kimia organic, sehingga banyak fenol  mempunyai nama-nama umum. Metilfenol misalnya, dikenal sebagai Kresol (berasal dari kreosot, tar dari batu bara atau kayu yang mengandung zat ini).” (Hart, 1983 : 164 )

5.    Reaksi fenol
“Esterifikasi fenol tidak melibatkan pemaksapisahan ikatan C – O yang kuat (dari) fenol itu, tetapi bergantung pada pemaksapisahan ikatan OH. Oleh karena itu, ester fenol dapt disintesis dengan reaksi-reaksi yang sama yang menghasilkan ester alkil.”  (Fessenden dan Fessenden,1982 : 516 )

“Fenol dan fenoksida menjalani beberapa reaksi yang agak menarik. Salah satunya ialah reaksi kalbe,yakni reaksi antara natrium fenoksida dan CO2 yang menghasilkan natrium silsilat, yang menghasilkan asam salisilat bila diasamkan.” (Fessenden dan Fessenden, 1994: 486)

“Bila fenol direaksikan dengan kloroform dan larutan NaOH dalam air pada suhu 700C, menghasilkan salisilaldehida. Reaksi ini dinamakan reaksi Reimer-Tiemann.” ( Parlan dan Wahjudi, 2003 : 147)

“Fenol dapat dibuat menjadi eter (alkil aril eter), dengan mereaksikan alkil halida dalam suasana basa alkali.” (Riswiyanto, 2009: 351)

“Fenol dapat dihidroksilasi dengan kalium persulfat (K2S2O3) dalam media alkali (oksidasi persulfat ELBS). Produk awal oksidadi adalah persulfat yang kemudian dihidrolisis menjadi hidrokuinon. Produk orto (turunan pirokatekol) dibentuk jika kedudukan para diblok.” (Sastrohamidjojo dan Pranowo, 2009 : 95)
6.    Pembuatan
“Phenolic compounds are quite common natural products and are found in both  plants and animals. The phenolic group may be part of molecules that are chemically quite different.” (Atkins, 1944 : 262)

“Pembuatan fenol yang umum adalah dengan menhidrolisis garam-garam diazonium. Cara lainnya telah dihasilkan oleh Underfriend, yaitu dengan menggunakan sistem oksigen-ion fero-asam askorbat dengan adanya EDTA (pereaksi Underfriend).”  (Sastrohamidjojo dan Pranowo, 2009 : 94)

7.    Identifikasi keberadaan fenol
“Test ini berguna untuk mengetahui adanya senyawa fenol. Reaksi antara fenol dan feri klorida memberikan senyawa komplek yang berwarna merah,hiaju,biru atau ungu. Warna yang diperoleh tergantung pada subtituen yang terikat pada fenol. Senyawa organik lain yang juga memberikan warna dengan membentuk senyawa kompleks ferriklorida adalah enol dan oksime.” (Anwar, et al , 1994 : 206)

“Cara terbaik untuk memisahkan dan mengidentifikasi senyawa fenol sederhana ialah dengan kromatografi lapis tipis (KLT). Biasanya senyawa fenol dideteksi setelah hidrolisis jaringan tumbuhan (segar atau kering) dalam suasana asama atau basa atau setelah pemekatan ekstrak tumbuhan dalam etanol-air.” (Harborner, 1987: 51)

8.    Manfaat
“Fenol dan kresol (hidroksitoluena) berasal dari ter arang, dan banyak digunakan dalam obat-obatan. Fenolnya sendiri yang juga dikenal sebagai asam karbol digunakan sebagai disinfektan.” (Cram, et al, 1988 : 53)

“Peranan bebrapa golongan senyawa fenol sudah diketahui (misalnya lignin sebagai bahan pembangunan dinding sel, antisianin sebagai pigmen bunga), sedangkan peranan senyawa yang termasuk golongan lain masih merupakan hasil dugaan belaka.” (Harborner, 1987 :47)

“Senyawa fenol yang ditambahkan akan teroksidasi akan berfungsi sebagai antioksidan. Antioksidan fenolik komersial adalah BHA (butyl hidroksi anisol) dan BHT (butyl hidroksi toluena).” (Hart, 1983 : 178 )

“Minyak creosote, suatu cairan berminyak yang diperoleh dengan menyuling ter batubara dan ter beechwood, mengandung fenol dalam bagian besar, termasuk kresol. Digunakan sebagai pengawet kayu.” (Keenan, Charles, Kleinfelter, Wood, 1986 : 390)

“Senyawa fenol banyak terdapat di alam dan merupakan intermediet bagi industry untuk berbagai macam produk seperti adhesive dan antiseptik. Fenol sendiri dapat dipakai sebagai disinfektan dan diperoleh dari tar-batubara. Beberapa contoh fenol adalah : metal, salisilat, didapat dari pohon menjalar di Amerika Serikat; tirosin, asam amino yang terdapat pada protein; eugenol, terdapat dalam minyak dari daun cengkeh; dan thymol (timol), terdapat dalam thyme.” (Riswiyanto, 2009 : 343)

“Beberapa tumbuhan tampaknya menjadi tahan terhadap serangan fungus karena senyawa fenol yang dikandungnya, tetapi ketahanannya itu mungkin bersifat khas, hanya terhadap jenis fungus tertentu. Beberapa senyawa fenolik bersifat menolak ata racun terhadap hewan pemangsa tumbuhan (herbivora), beberapa bersifat racun serangga, sementara senyawa fenol lain mempengeruhi perkembangbiakan binatang mengerat.” (Robinson, 1995: 59)

9.    Dampak negatif
“Bagi biokimiawan tumbuhan, senyawa fenol-tumbuhan dapat menimbulkan gangguan besar karena kamampuannya membentuk kompleks dengan protein melalui ikatan hydrogen. Bila kandungan sel tumbuhan bercampur dan membrane menjadu rusak selama proses isolasi, senyawa fenol cepat sekali membentuk kompleks dengan protein. Akibatnya, sering terjadi hambatan terhadap kerja enzim pada ekstrak tumbuhan kasar.”(Harborner, 1987: 48)

“Fenol , C6H5OH  anggota tersederhana dari kelas senyawa ini, juga dikenal sebagai asam karbonat. Sangat merusak jaringan hewan.” (Keenan, Charles, Kleinfelter, Wood, 1986 : 390)
























BIBLIOGRAFI

1.    Pengertian
Cram, D.J., et al . 1988. Kimia Organik 1. Diterjemahkan oleh : Roehyati Joedodibroto dan Sasanti W. Purbo-Hadiwidjoyo. Bandung : ITB
Fessenden, Ralph J dan Joan S. Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid II . Edisi kedua. Diterjemahkan oleh : Pujaatmaka. Jakarta : ERLANGGA
Keenan, Charles W., D.C. Kleinfelter., J.H Wood. 1986. Ilmu Kimia untuk Universitas Jilid 2. Edisi keenam. Diterjemahkan oleh :  Aloysius Hadyana Pudjaatmaka.  Jakarta: ERLANGGA
 Parlan dan Wahjudi.2003.Kimia organic I.Malang : Technical Cooperation Project for Development of Science and Mathematics Teaching for Primary and Secondary Education in Indonesia
2.    Sifat Kimia
Atkins, robert C. and Francis A Carey.1944. Organic chemistry : a brief course.3rd ed. America : The McGraw-Hill Companies,Inc
Fessenden, Ralph J dan Joan S. Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid II . Edisi kedua. Diterjemahkan oleh : pujaatmaka. Jakarta : ERLANGGA
Hart, Harold. 1983. Kimia Organik suatu kuliah singkat.Edisi keenam. Diterjemahkan oleh : Suminar Achmadi. Jakarta : ERLANGGA
Parlan dan Wahjudi.2003. Kimia organic I.Malang : Technical Cooperation Project for Development of Science and Mathematics Teaching for Primary and Secondary Education in Indonesia
Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga
3.    Sifat Fisik
Cram, D.J., et al . 1988. Kimia Organik 1. Diterjemahkan oleh : Roehyati Joedodibroto dan  Sasanti W. Purbo-Hadiwidjoyo. Bandung : ITB
Hart, Harold. 1983. Kimia Organik suatu kuliah singkat.Edisi keenam. Diterjemahkan oleh : Suminar Achmadi. Jakarta : ERLANGGA
Parlan dan Wahjudi.2003. Kimia organic I.Malang : Technical Cooperation Project for Development of Science and Mathematics Teaching for Primary and Secondary Education in Indonesia
Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga

4.    Tata nama
Hart, Harold. 1983. Kimia Organik suatu kuliah singkat.Edisi keenam. Diterjemahkan oleh : Suminar Achmadi. Jakarta : ERLANGGA
5.    Reaksi
Fessenden, Ralph J dan Joan S. Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid II . Edisi kedua. Diterjemahkan oleh : Pujaatmaka. Jakarta : ERLANGGA
-----------------------------------------------------------. 1994. Kimia Organik Jilid I . Edisi ketiga. Diterjemahkan oleh : Pujaatmaka. Jakarta : ERLANGGA
Parlan dan Wahjudi.2003. Kimia organic I.Malang : Technical Cooperation Project for Development of Science and Mathematics Teaching for Primary and Secondary Education in Indonesia
Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga
Sastrohamidjojo, Hardjono dan Harno dwi Pranowo. 2009. Sintesis Senyawa Organik. Jakarta : Erlangga
6.    Pembuatan
Atkins, robert C. and Francis A Carey.1944. Organic chemistry : a brief course.3rd ed. America : The McGraw-Hill Companies,Inc.
Sastrohamidjojo, Hardjono dan Harno dwi Pranowo. 2009. Sintesis Senyawa Organik. Jakarta : Erlangga
7.    Identifikasi
Anwar, Chairil., et al.1994.Pengantar Praktikum Kimia Organik.Yogyakarta: FMIPA Universitas Gadjah Mada
Harborner, J.B. 1987. Metode Fitokimia: penentuan cara modern analisis tumbuhan. Edisi kedua. Diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Bandung : ITB
8.    Manfaat
Cram, D.J., et al . 1988. Kimia Organik 1. Diterjemahkan oleh : Roehyati Joedodibroto dan  Sasanti W. Purbo-Hadiwidjoyo. Bandung : ITB
Harborner, J.B. 1987. Metode Fitokimia: penentuan cara modern analisis tumbuhan. Edisi kedua. Diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Bandung : ITB
Hart, Harold. 1983. Kimia Organik suatu kuliah singkat.Edisi keenam. Diterjemahkan oleh : Suminar Achmadi. Jakarta : ERLANGGA
Keenan, Charles W., D.C. Kleinfelter., J.H Wood. 1986. Ilmu Kimia untuk Universitas Jilid 2. Edisi keenam. Diterjemahkan oleh :  Aloysius Hadyana Pudjaatmaka.  Jakarta: ERLANGGA
Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga
Robinson, Trevor. 1995. Kandungan organik tumbuhan tinggi. Diterjemahkan oleh : Padmawinata. Bandung : ITB
9.    Dampak
Harborner, J.B. 1987. Metode Fitokimia: penentuan cara modern analisis tumbuhan. Edisi kedua. Diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Bandung : ITB
Keenan, Charles W., D.C. Kleinfelter., J.H Wood. 1986. Ilmu Kimia untuk Universitas Jilid 2. Edisi keenam. Diterjemahkan oleh :  Aloysius Hadyana Pudjaatmaka.  Jakarta: ERLANGGA





ANALISIS, PEMBAHASAN, DAN KESIMPULAN
TITRASI PENGOMPLEKSAN















Oleh :

Zumrotus Sholihah
15030194022
PKA 2015



UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
PRODI PENDIDIKAN KIMIA
2016
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
1.      Standarisasi / Penentuan Larutan Na-EDTA ±0.01 M dengan CaCl2 Sebagai Baku
Titrasi kompleksometri atau kelatometri adalah suatu jenis titrasi  antara bahan yang dianalisis dan titrat akan membentuk suatu kompleks senyawa. Kompleks senyawa ini disebut kelat dan terjadi akibat titran dan titrat yang saling mengkompleks. Dalam hal ini titran larutan EDTA dan titrat larutan CaCO3 saling mengompleks dengan bantuan indicator warna EBT.
Langkah pertama, ditimbangan CaCO3 dengan menggunakan neraca analitik. CaCO3 berbentuk serbuk halus dan berwarna putih sebanyak ±0,081 gram. Senyawa CaCO3 yang telah dimasukkan ke labu ukur 100mL. kemudian, dilarutkan dalam aquades sampai tanda batas, menghasilkan endapan berwarna putih CaCO3 yang tidak larut sempurna dalam aquades. Setelah itu diteteskan larutan HCl 6 M setetes demi setetes untuk menghilangkan gelagak gas yang terjadi dan melarutkan CaCO3 yang masih berwujud berupa serbuk, hal tersebut karena faktor kelarutan CaCO3 dalam keadaan jenuh, sehingga pada awalnya CaCO3 sedikit larut namun semakin lama CaCO3 tidak dapat melarut lagi karena sudah berada pada titik jenuh. Pada saat penambahan larutan HCl 6 M larutan yang semula berwarna putih keruh berubah menjadi jernih tidak berwarna, karena ion dalam CaCO3 dalam keadaan seimbang setelah ditambahkan larutan HCl 6 M. Dalam percobaan ini dibutuhkan 12 tetes HCl 6 M agar gas CO2 menghilang dan menghasilkan larutan CaCl2 yang jernih dan tidak berwarna.
reaksi yang terjadi :
CaCO3 (s) + H2O (l)               CaCO3 (s)
CaCO3 (s) + 2HCl (aq)                       CaCl2 (aq) + H2O (l) + CO2 (g)
Larutan CaCl2 sebagai baku primer karena zatnya stabil dan tersedia dalam kemurnia yang tinggi, dikatanya sebagai larutan baku primer karena  konsentrasinya diketahui dengan penimbangan secara tepat zat kimia yang benar-benar murni dan dilarutkan dalam sejumlah pelarut tertentu. Penimbangan kalsium karbonat  (CaCO3) dilakukan dengan seksama sehingga diperoleh berat sebesar 0,081 gram agar diperoleh larutan standar primer yang sesuai dimana konsentrasinya diketahui dengan tepat. Sehingga Larutan EDTA sebagai baku sekunder yang akan diketahui konsentrasinya dari larutan baku primer (CaCl2)
Kemudian diambil 10 mL larutan CaCl2 dengan pipet seukuran dan dimasukkan dalam erlenmeyer. Ditambahkan larutan buffer pH 10 sebanyak 2 mL, kemudian ditambahkan 3 tetes indikator EBT, sehingga larutan mengalami perubahan dari tidak berwarna menjadi merah anggur.
Larutan buffer ini tidak berwarna dan berbau seperti telur busuk. Penambahan larutan buffer ini menghasilkan larutan yang tidak berwarna. Penambahan ini dimaksudkan untuk menjaga pH larutan tidak turun (menjadi asam). Hal ini  dikarenakan pH pada saat titrasi, pH larutan akan turun karena pada reaksinya, EDTA akan menghasilkan H+ dihasilkannya H+ ini menjadikan pH larutan akan turun menjadi asam, hal ini tentunya akan mempengaruhi titrasi karena indikator EBT akan bekerja pada pH 7-11. Agar indikator EBT bekerja pada pH 7-11, maka pH titrasi perlu dijaga/disangga oleh larutan buffer. Selain itu penggunaan indikator EBT dalam percobaan ini karena indikator ini dapat berikatan secara langsung ion kalsium (Ca2+). Pada penggunaan indikator EBT haruslah segera dititrasi karena EBT bersifat tidak stabil sehingga dapat mempengaruhi hasil titrasi (perubahan warna, setelah tercapai titik akhir larutan berwarna biru akan kembali ke warna awal setelah dibiarkan jika jarak pemberian indikator EBT dengan proses titrasi terlalu lama).
Pada saat penambahan indikator terjadi reaksi antara ion kalsium (Ca2+) dengan indikator EBT, seperti reaksi di bawah ini :
CaCO3 + In3- à CaI-
                           (merahanggur)
Selanjutnya dititrasi dengan Na-EDTA dalam buret yang terlebih dahulu dicuci dengan larutan tersebut agar tidak ada zat lain sebagai zat pengotor kecuali larutan Na-EDTA itu sendiri. Dititrasi larutan dalam erlenmeyer dengan Na-EDTA sampai terjadi perubahan warna dari merah anggur menjadi biru (titik akhir titrasi)
Pada awal titrasi ini larutan berwarna merah anggur dimana larutan CaCO3 akan bereaksi dengan indikator EBT membentuk senyawa kompleks CaEBT berwarna merah anggur. Kompleks logam-indikator yang terbentuk menghasilkan warna merah anggur dimana setelah penambahan garam EDTA, ion logam akan bebas dan berikatan dengan Na2EDTA sehingga indikator akan berubah warna dari warna indikator yang membentuk kompleks dengan ion logam ke warna indikator yang bebas dari ion logam. Hal ini disebabkan karena kompleks logam-indikator lebih lemah daripada kompleks logam-EDTA sehingga EDTA yang ditambahkan selama titrasi akan mengikat ion logam bebas.
Reaksi yang terjadi :
CaI- + Na2EDTA à CaEDTA + I3- + 2Na+
(merah anggur)                          (biru)

Kompleks Ca-EDTA
Diperoleh volume yang dibutuhkan dan diulangi sebanyak 3 kali. Sehingga diperoleh volume Na-EDTA yang dibutuhkan
·         Volume Na-EDTA saat percobaan A = 7,2 mL
·         Volume Na-EDTA saat percobaan B = 7,4 mL
·         Volume Na-EDTA saat percobaan C = 7,4 mL
Setelah itu dihitung normalitas dari larutan Na-EDTA menggunakan rumus
                
                     
erikut ini adalah normalitas larutan Na-EDTA yang diperoleh setiap percobaan :
·         Normalitas larutan Na-EDTA pada percobaan A = 0,01125 N
·         Normalitas larutan Na-EDTA pada percobaan B = 0,01094 N
·         Normalitas larutan Na-EDTA pada percobaan C = 0,01094 N
Kemudian dari Normalitas larutan Na-EDTA yang diperoleh diatas, dirata-rata untuk mendapatkan normalitas larutan Na-EDTA rata-rata yaitu  = 0,01140 N
2.      Menentukan Kesadahan Ca Air PDAM di Perum Griya Citra Asri RT 1 RW 7 Sememi- Benowo
Pada percobaan kedua, menentukan Kesadahan Ca dari suatu sampel air PDAM di Perum Griya Citra Asri RT 1 RW 7 Sememi- Benowo. Langkah pertama, Diambil 10 mL sampel air sumur yang tidak berwarna tersebut dengan pipet seukuran dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 mL. Kemudian ke dalam sampel air sumur ditambahkan 1 mL larutan buffer dengan pH 10 yang tidak berwarna dan menghasilkan larutan yang juga tidak berwarna. Selanjutnya, ditambahkan 3 tetes indikator EBT yang berwarna merah anggur sehingga larutan berwarna merah anggur. Kemudian dititrasikan dengan larutan Na-EDTA yang telah distandarisasi sebelumnya dan dihentikan saat terjadi perubahan warna menjadi biru (titik akhir).
Penambahan larutan buffer ini menghasilkan larutan yang tidak berwarna. Penambahan ini dimaksudkan untuk menjaga pH larutan tidak turun (menjadi asam). Hal ini  dikarenakan pH pada saat titrasi, pH larutan akan turun karena pada reaksinya, EDTA akan menghasilkan H+ dihasilkannya H+ ini menjadikan pH larutan akan turun menjadi asam, hal ini tentunya akan mempengaruhi titrasi karena indikator EBT akan bekerja pada pH 7-11. Agar indikator EBT bekerja pada pH 7-11, maka pH titrasi perlu dijaga/disangga oleh larutan buffer. Selain itu penggunaan indikator EBT dalam percobaan ini karena indikator ini dapat berikatan secara langsung ion kalsium (Ca2+). Pada penggunaan indikator EBT haruslah segera dititrasi karena EBT bersifat tidak stabil sehingga dapat mempengaruhi hasil titrasi (perubahan warna, setelah tercapai titik akhir larutan berwarna biru akan kembali ke warna awal setelah dibiarkan jika jarak pemberian indikator EBT dengan proses titrasi terlalu lama).
Pada saat penambahan indikator terjadi reaksi antara ion kalsium (Ca2+) dengan indikator EBT, seperti reaksi di bawah ini :
CaCO3 + In3- à CaI-
                           (merah anggur)
Dititrasi air sampel dengan Na-EDTA sampai terjadi perubahan warna dari merah anggur menjadi biru (titik akhir titrasi)
Pada awal titrasi ini larutan berwarna merah anggur dimana larutan CaCO3 akan bereaksi dengan indikator EBT membentuk senyawa kompleks CaEBT berwarna merah anggur. Kompleks logam-indikator yang terbentuk menghasilkan warna merah anggur dimana setelah penambahan garam EDTA, ion logam akan bebas dan berikatan dengan Na2EDTA sehingga indikator akan berubah warna dari warna indikator yang membentuk kompleks dengan ion logam ke warna indikator yang bebas dari ion logam. Hal ini disebabkan karena kompleks logam-indikator lebih lemah daripada kompleks logam-EDTA sehingga EDTA yang ditambahkan selama titrasi akan mengikat ion logam bebas.
Reaksi yang terjadi :
CaI- + Na2EDTA à CaEDTA + I3- + 2Na+
(merah anggur)                          (biru)
Dicatat volume Na-EDTA untuk titrasi dan percobaan dilakukan 3 kali dengan volume sampel air PDAM yang sama.
·         Volume Na-EDTA saat percobaan A = 1,6 mL
·         Volume Na-EDTA saat percobaan B = 1,5 mL
·         Volume Na-EDTA saat percobaan C = 1,4 mL
Setelah itu dihitung Kesadahan Ca  dengan menggunakan rumus
Kesadahan Ca (ppm)  =
erikut ini adalah Kesadahan Ca yang diperoleh setiap percobaan :
·         Kesadahan Ca pada percobaan A = 176,64 ppm
·         Kesadahan Ca pada percobaan B = 165,6 ppm
·         Kesadahan Ca pada percobaan C = 154,56 ppm
Kemudian dari Kesadahan Ca yang diperoleh diatas, dirata-rata untuk mendapatkan Kesadahan Ca  rata-rata yaitu  = 165,6 ppm.
            Kesadahan Ca dari sampel air tersebut adalah 165,6 ppm masih bisa dikonsumsi karena belum mencapai 500 ppm yang merupakan parameter wajib sadah menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 tahun 2010.
Standar kesadahan menurut WHO, 1984, mengemukakan bahwa :
a.    Sangat lunak sama sekali tidak mengandung CaCO3;
b.    Lunak mengandung 0-60 ppm CaCO3;
c.    Agak sudah mengandung 60-120 ppm CaCO3;
d.   Sadah mengandung 120-180 ppm CaCO3;
e.    Sangat sadah 180 ppm ke atas.
Sehingga air sampel tersebut tergolong dalam “sadah” karena mengadung 165,6 ppm dan masih dapat dikonsumsi karena belum sampai 500 ppm. Hal ini disebabkan karena faktor alami, yaitu letak daerah pengambilan sampel terdapat pabrik industry, sehingga terdapat pencemaran air di daerah tersebut namun tidak besar.

KESIMPULAN
1.      Standarisasi larutan Na-EDTA dengan larutan baku CaCl2,  diperoleh volume Na-EDTA yang dibutuhkan dalam 3 kali pengulangan berturut-turut 7,2 mL ; 7,4 mL ; 7,4 mL. Sehingga, Normalitas larutan Na-EDTA pada 3 kali pengulangan yaitu . Sehingga Normalitas Na-EDTA rata-rata sebesar 0,01140 N.
2.      Penentukan Kesadahan Ca Air PDAM di Perum Griya Citra Asri RT 1 RW 7 Sememi- Benowo, diperoleh volume Na-EDTA yang dibutuhkan dalam 3 kali pengulangan berturut-turut 1,6 mL ; 1,5 mL ; 1,4 mL. Sehingga, Kesadahan Ca dalam sampel air pada 3 kali pengulangan yaitu . Diperoleh kesadahan total 165,6 ppm termasuk dalam tingkat “sadah” menurut standar WHO 1984. Hal tersebut bisa dikarena faktor alam pada daerah tersebut terdapat banyak pabrik dan pencemaran air, namun air PDAM tersebut masih bisa dikonsumsi karena belum melebihi ambang batas 500 ppm yang menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 tahun 2010.



KOMPLEKSOMETRI-ZUMROTUS