LAPORAN
PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN
POLITIK PAROKIAL
POLITIK PAROKIAL
OLEH:
KELOMPOK
II
EPRI
SUSILOWATI (07)
FAIZ
SUROYYA (09)
JAINURIL
EFENDI (13)
MARTHA
AYU AGUSTIN (16)
NIMATUL AMALA (18)
PRADESTA IMSAK NINDI AKBAR (21)
ROSDIYYANA SILMI (23)
ZUMROTUS SHOLIHAH (30)
NIMATUL AMALA (18)
PRADESTA IMSAK NINDI AKBAR (21)
ROSDIYYANA SILMI (23)
ZUMROTUS SHOLIHAH (30)
SMA NEGERI 1 CERME 2013/2014
BUDAYA POLITIK
PAROKIAL
Budaya
politik parokial
merupakan budaya politik yang terdapat dalam suatu masyarakat, dimana masyarkat
tersebut tidak memiliki partisipasi, bahkan tidak peduli sama sekali terhadap
perkembangan politik negaranya. Dalam budaya politik ini masyarakat tidak merasakan bahwa
mereka adalah warga suatu negara. Mereka lebih mengidentifikasikan dirinya pada
perasaan lokalitas. Tidak terdapat kebanggaan terhadap sistem politik
tersebut. Mereka tidak memiliki perhatian terhadap apa yang terjadi dalam
sistem politik, pengetahuannya, sedikit tentang sistem politik, dan jarang
membicarakan masalah-masalah politik.
Masyarakat
yang memiliki budaya politik ini lazimnya tinggal di pedalaman yang menutup
diri terhadap perubahan social dan tidak mendapatkan pendidikan yang layak,
sehingga mereka cukup saja mewakilkan aspirasinya kepada kepala adat
jika ada hal-hal yang berkaitan dengan event politik yang
diselenggarakan oleh negara misalnya pemilu, pilleg, pilkada dan sebagainya.
Dalam
budaya politik parochial terdapat integrasi antara pemimpin politik dengan
pemimpin lainnya, misalnya pemimpin agama, ekonomi, budaya. Seorang kepala adat
memimpin segala hal tak hanya politik ketika menjadi wakil masyarakat untuk
menyampaikan aspirasinya, tapi sekaligus menjadi pemimpin agama pada upacara
upacara keagamaan, pemimpin ekonomi ketika mempertahankan hidup (survival)
keluarga dan warganya dengan bertani, berkebun, berburu, dan sebagainya.
Juga sebagai pemimpin budaya yang harus menjaga adat istiadat supaya tidak
dipengaruhi oleh budaya lain yang dapat merusak kearifan local.
Sebagaimana
telah dijelaskan bahwa pendidikan yang rendah memicu budaya politik parochial
semakin kuat tertanam dalam keyakinan masyarakat. Sebenarnta tak hanya
masyarakat pedalaman, tak menutup kemungkinan juga masyarakat perkotaan jika
tingkat partisipasi politik miim bias dikategorikan memiliki budaya politik
yang sama dengan sebab yang berbeda.
Jika pada
masyarakat pedalaman budaya politik parokial terjadi karena kurangnya
pendidikan sehingga akses informasi terhadap pendidikan politik sangat minim,
maka pada masyarakat perkotaan justru sebaliknya, meskipun pendidikannya
relative lebih baik dan didukaung oleh sarana dan prasarana yang memadai untuk
pendidikan politik, justru karena informasi dari media cetak dan elektronik
seputar masalah politik Negara yang tak ada habisnya mengakibatkan masyarakat
kota menjadi hilang harapan (hopeless) terhadap sistem politik yang
sedang berjalan
Budaya
politik parokial rentan sekali dimanfaatkan, sebab sifatnya desentralisir. Di
pedalaman, ketua adat menjadi pemimpin politik masyarakat sekitarnya. Jika
ketua adat berhasil dirayu dengan uang, jabatan, dan lain-lain lalu siap
mengarahkan masyarakatnya untuk memilih seseorang atau suatu partai tanpa
masyarakat ketahui terlebih dahulu. Itulah kekurangan yang mungkin sering
dimanfaatkan oknum tertentu.
Pemerintah
memiliki tanggung jawab lebih dalam mengubah budaya politik parochial ini
supaya tingkat partisipasi masyarakat dalam politik meningkat melalui
peningkatan kualitas pendidikan yang merata ke semua wilayah Indonesia terutama
daerah-daerah terpencil yang harus diprioritaskan. Diharapkan dengan meningkatkan
kualitas pendidikan bukan hanya partisipasi politik yang meningkat namun juga
ekonomi, social, dan budaya mengalami perkembangan.
Ciri-ciri
Budaya Politik Parokial
1. frekuensi orientasi terhadap sistem sebagai objek umum,
objek-objek input, objek-objek output, dan pribadi sebagai partisipan
aktif mendekati nol;
2. tidak
terdapat peran-peran politik yang khusus dalam masyarakat;
3. orientasi parokial menyatakan alpanya
harapan-harapan terhadap perubahan yang komparatif yang diinisiasikan oleh
sistem politik.
4. kaum parokial tidak mengharapkan apapun dari sistem
politik;
5. parokialisme murni berlangsung dalam sistem tradisional
yang lebih sederhana ketika spesialisasi politik berada pada jenjang sangat
minim;
6. parokialisme dalam sistem politik yang diferensiatif
lebih bersifat afektif dan normatif dari pada kogniti
Faktor-faktor budaya politik adalah akibat
dari
- Pengetahuan politik yang rendah;
- kesadaran dalam berpolitik yang rendah;
- Tidak peduli dan menarik diri dari kehidupan politik.
Contoh Budaya Parokial
Budaya politik parokial biasanya terdapat dalam sistem politik tradisional
dan sederhana, dengan ciri khas spesialisasi masih sangat kecil, sehingga
pelaku-pelaku politik belumlah memiliki tugas.
Suku-suku tradisional yang ada di seluruh Indonesia, terutama yang
belum tersentuh teknologi modern (baduy di banten, kubu-lubu, di pedalaman
hutan-hutan jambi, suku dayak, dan suku-suku di papua).
JAWABAN PERTANYAAN
1. Bagaimana peran serta keaktifan
dalam memilih pilihannya terhadap PILKADA ?
Peran keaktifan dalam budaya politik
parochial sangat rendah, kehidupannya masih sederhana (primitif) dan mereka
tidak menaruh minat terhadap objek-objek politik yang luas seperti PILKADA,mereka hanya dalam lingkup yang sempit (yang ada di
sekitar tempat mereka tinggal) contoh pemilihan ketua desa/ kepala suku mereka
cukup mewakilkan aspirasinya kepada kepala adat.
2. Factor penyebab ikut tidaknya peran
aktif dalam PILKADA?
Tidak aktifan masyarakat pada budaya
parochial di sebabkan karena :
·
Gaya hidup
mereka yang masih sederhana dan kurangnya minat pada budaya politik dalam
lingkup yang luas
·
Kurangnya
pengetahuan atau wawasan mengenai politik
·
Kurangnya sosialisasi
(pemerintah kurang mensosialisasikan kesadaran politik pada masyarakat
pedalaman)
3. Bagaimana peran keluarga dan
masyarakat dalam mensosialisasikan kesadaran politik?
Karena masyarakat hidup masih
sederhana/ tradisional jadi keluarga atau masyarakat kurang bisa
mensosialisasikan dengan baik. Keluarga kurang pengetahuan politik maka anaknya
pun kesadarnnya juga lemah, dan berdampak pada keaktifan anak dalam politik ,
kecuali anak sudah besar dan mencari pengetahuan akan politik secara sendiri kepada
masyarakat di tempat lain yang kesadaran politiknya tinggi. Si anak bisa
memperoleh kesadaran politik yang tinggi juga.
KESIMPULAN
:
Masyarakat
pada budaya parochial tidak menaruh minat pada system politik dan bahkan tidak peduli sama sekali terhadap
perkembangan politik negaranya mereka mempercayakan pemerintahan
pada ketua suku setempat (diwakilkan )



0 komentar:
Posting Komentar